Selamatkan Nusantara Lewat Wayang Gajah Mada

205
Dr. Sindung Tjahyadi, M.Hum memainkan wayang Gajah Mada yang ia rintis bersama tim. Foto: Dwikoen
Dr. Sindung Tjahyadi, M.Hum memainkan wayang Gajah Mada yang ia rintis bersama tim. Foto: Dwikoen

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Tokoh Gajah Mada akrab di telinga sivitas akademika kampus kerakyatan.

Begitu juga dengan wayang. Boneka bertatah-sungging yang terbuat dari kulit binatang ini juga akrab bagi masyarakat Indonesia, Jawa khususnya.

Namun begitu, sedikit beda ceritanya tentang Wayang Gajah Mada, yang kini tengah dipersiapkan oleh ‘orang-orang tidak normal’ UGM.

Rudy Wiratama, M.A., salah satu ‘orang-orang tidak normal’ itu, setiap seminggu sekali berkunjung ke Sanggar Wayang Wawan Sondakan, Kelurahan Laweyan, Kota Surakarta.

Mahasiswa S3 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR), UGM ini rutin mengawal proses pembuatan Wayang Gajah Mada.

“Komandannya (koordinator_red) Pak Sindung,” tutur Rudy yang juga mengajar mata kuliah Macapat dan Praktik Kebudayaan Indonesia di Sastra Jawa UGM ini.

Saat ditemui KAGAMA pada akhir Mei, Rudy bercerita bahwa ia bersama empat temannya prihatin.

Banyak kreasi wayang tetapi ahistoris. Maksud Rudy, masih ada anggapan bahwa berkreasi harus meninggalkan yang lama.

Harus sama sekali baru, dan ikut-ikutan apa yang dianggap modern dan kekinian oleh masyarakat luas.

Itulah salah satu hal yang membuat Rudy beserta timnya menggagas kelahiran Wayang Gajah Mada.

Awalnya wayang ini disebut sebagai Wayang Gedog Gajah Mada…..

[Baca selengkapnya di Majalah Kagama Edisi Nomor 29]

Majalah Kagama Edisi Nomor 29. Foto: Majalah Kagama
Majalah Kagama Edisi Nomor 29. Foto: Majalah Kagama