Sekolah Vokasi UGM Akan Dibangun di Kulonprogo

373

SEKIP, KAGAMA – Universitas Gadjah Mada (UGM) akan mengembangkan pembangunan kampus khusus Sekolah Vokasi (SV UGM) di Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Komplek SV UGM yang baru direncanakan akan berfungsi sebagai Teaching Industry itu akan dibangun di atas lahan seluas 6,5 hektar yang sudah disediakan oleh Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X dan Bupati Kulonprogo dr. H. Hasto Wardoyo, Sp. OG (K). di kawasan Desa Wates, Kulonprogo, DIY.

Dekan SV UGM Wikan Sakarinto, Ph. D. menyampaikan hal itu saat memberikan Keynote Speech pada Reuni Akbar Program Studi Diploma (Prodi)  D 3 Pengelolaan Hutan UGM, Sabtu (5/8/2017) di Hall Perpustakaan SV UGM, Sekip, Sleman, Yogyakarta.

Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Dekan SV UGM Wikan Sakarinto, Ph. D. (kiri/berkemeja batik) dengan perwakilan mitra kerja Hendy Saputra (kanan) sebelum Seminar Nasional digelar (Foto Ayudya Mentari/KAGAMA)
Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Dekan SV UGM Wikan Sakarinto, Ph. D. (kiri/berkemeja batik) dengan perwakilan mitra kerja Hendy Saputra (kanan) sebelum Seminar Nasional digelar (Foto Ayudya Mentari/KAGAMA)

“Persiapan membangun SV UGM di Kulonprogo sudah disediakan lahan seluas 6,5 hektar dari Sultan dan didukung Bupati Kulonprogo. Sekolah Vokasi UGM akan menjadi Teaching Industry,” ujarnya di hadapan alumni D 3 Pengelolaan Hutan UGM dan narasumber Seminar Nasional, Dr. Ir. Untung Iskandar, M. Sc., Purwadi Soeprihanto, S. Hut., M. E., Ketua Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia, dan Ir. Hartono Prawiratmadja, M. Sc. sebagai Sekretaris Badan Restorasi Gambut yang juga Ketua Kagamahut.

Dikatakan Wikan, kelak, sebagai Teaching Industry, SV UGM menjadi bagian visi misi UGM yang menjalankan proses hilirisasi produk riset yang ada di UGM agar tidak hanya menjadi paper ilmiah, melainkan menjadi produk teknologi science research edu park di Kulonprogo. Produknya berupa alat kesehatan, implant bio medis, industri kakao, dan teknologi olah pangan, seperti susu hewan ternak, dan lainnya.

Seminar Nasional menghadirkan narasumber (dari kiri ke kanan) Purwadi Soeprihanto, S. Hut., M. E., Ir. Hartono Prawiraatmadja, M. Sc., Prof. Dr. drh. Siti ISrina Oktavia Salasia (Moderator), dan Dr. Untung Iskandar (Foto Ayudya Mentari/KAGAMA)
Seminar Nasional menghadirkan narasumber (dari kiri ke kanan) Purwadi Soeprihanto, S. Hut., M. E., Ir. Hartono Prawiraatmadja, M. Sc., Prof. Dr. drh. Siti ISrina Oktavia Salasia (Moderator), dan Dr. Untung Iskandar (Foto Ayudya Mentari/KAGAMA)

SV UGM, lanjut Wikan, resmi berdiri sejak 2009 mencakup seluruh Prodi D3 dan D4 dengan jumlah total 23 Prodi. Sementara itu, berdasarkan Prodinya yang terdiri dari bermacam-macam rumpun keilmuan, maka SV UGM tidak dapat dijadikan sebagai fakultas. Sedangkan dari tahun ke tahun minat generasi muda untuk menempuh studi di SV UGM menunjukkan peningkatan signifikan.

Wikan yang alumnus Prodi D3 Teknik Mesin UGM Angkatan 1993 mengharapkan alumni SV UGM mengambil peran dan kontribusi, mengingat dalam lapangan kerja sangat dibutuhkan. Keadaan tersebut seiring dan sejalan dengan kebijakan Presiden Joko Widodo yang fokus dan memprioritaskan pendidikan vokasional.

Suasana Seminar Nasional diikuti alumni Prodi D 3 Pengelolaan Hutan SV UGM mulai dari Angkatan 1995 hingga 2015 (Foto Ayudya Mentari/KAGAMA)
Suasana Seminar Nasional diikuti alumni Prodi D 3 Pengelolaan Hutan SV UGM mulai dari Angkatan 1995 hingga 2015 (Foto Ayudya Mentari/KAGAMA)

“Anda-Anda ini alumni SV UGM juga merupakan next leader anak bangsa. Semaksimal mungkin kita menciptakan pemimpin masa depan dari SV UGM. Karena itu, kami berharap peran alumni yang sangat penting dengan bekerjasama dan saling memberi masukan,” tambah Wikan.

Rembug Alumni

Selain menyelenggarakan Seminar Nasional bertema “Peluang dan Tantangan Rimbawan dalam Menghadapi MEA”, alumni Prodi D 3 Pengelolaan Hutan SV UGM juga mengadakan Rembug Alumni. Peserta Rembug Alumni terdiri hampir seluruh perwakilan alumni dari setiap angkatan, dimulai dari angkatan 1996, angkatan pertama SV UGM hingga angkatan 2015.

Narasumber, Moderator, Dekan SV UGM serta Ketua Prodi D3 Pengelolaan Hutan SV UGM Wiyono, S. Hut., M. Si. (paling kiri) berfoto  bersama Panitia Reuni Akbar Prodi D 3 Pengelolaan Hutan SV UGM (Foto Ayudya Mentari/KAGAMA)
Narasumber, Moderator, Dekan SV UGM serta Ketua Prodi D3 Pengelolaan Hutan SV UGM Wiyono, S. Hut., M. Si. (paling kiri) berfoto bersama Panitia Reuni Akbar Prodi D 3 Pengelolaan Hutan SV UGM (Foto Ayudya Mentari/KAGAMA)

Ketua Program Studi D3 Pengelolaan Hutan, Wiyono, S. Hut., M. Si. menambahkan, Rembug Alumni  menjadi tindak lanjut untuk memposisikan para alumni Prodi D3 Pengelolaan Hutan SV UGM sejak program studi tersebut berpindah secara administratif dari Fakultas Kehutanan menjadi di bawah Sekolah Vokasi. Pembahasan keluarga alumni  menjadi penting karena secara struktural alumni D3 Pengelolaan Hutan berdiri di dua kaki keluarga alumni, yaitu Kagamahut (Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Fakultas Kehutanan) dan Kavogama (Keluarga Alumni Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada).

“Kita memiliki lebih dari 1.500 alumni dari D3 Pengelolaan Hutan. Ini jumlah yang besar dan cukup memiliki nilai tawar tinggi. Lalu,mau diapakan? Itulah mengapa jaringan alumni penting,” ujarnya.

Menurut Diafan Kurnia Jati, Ketua Panitia Reuni Akbar Prodi D 3 Pengelolaan Hutan SV UGM, Rembug Alumni membahas keberlangsungan jaringan alumni D3 Pengelolaan Hutan SV UGM. Tidak hanya menjalin hubungan komunikasi dan silaturahmi antaralumni dan angkatan namun juga menjadi wadah untuk sharing pengalaman kerja atau memberikan jaringan untuk mahasiswa aktif yang membutuhkan tempat magang. [Desti/rts]