Sutarmi (95), warga Klaten yang mengalami masa peperangan  di Klaten kala itu, mengungkapkan bahwa rumah sakit darurat ini digunakan untuk mengobati orang-orang sakit yang terkena kanon (peluru udara) yang dilancarkan oleh Belanda dari pesawat tempurnya.

Hingga saat ini, bangunan bekas RS Geger ini masih berdiri. Namun, sayangnya karena tidak adanya perhatian khusus, bangunan bersejarah perjuangan di Klaten ini terancam roboh. Hal ini menjadi faktor rentannya kondisi bangunan bekas rumah sakit darurat ini.

Dwi Nur Rizkiansyah, videografer film dokumenter Sardjito, mengaku melihat langsung kondisi bangunan yang memprihatinkan tersebut. Ruangan dalam RS Geger terlihat sangat memprihatinkan. “Kusen jendela sudah tidak menempel di tembok, genting-genting bocor, dan eternit yang terbuat dari anyaman bambu sudah tidak menempel dengan sempurna di atap rumah,” ujarnya.

Ia berharap karena bangunan ini memiliki peran penting dalam perjuangan rakyat Klaten, seharusnya pemerintah bisa lebih memperhatikannya. “Semoga bangunan ini tetap berdiri sebagai pengingat perjuangan rakyat Klaten dahulu,” harapnya. (Humas UGM/Hakam)