BULAKSUMUR, KAGAMA – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengucurkan dana program Hibah Bina Desa (HBD) kepada Universitas Gadjah Mada (UGM). Dana Program HBD diberikan kepada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik UGM dan PKM Center UGM selaku kedua pihak yang mengajukan proposal program.

BEM Fakultas Teknik UGM mengajukan proposal berjudul “Co-Craft” Program Pemberdayaan Warga Dusun Plampang 1 sebagai Sarana Peningkatan Perekonomian melalui Kreasi Pengolahan Limbah Coconut Coir Menjadi Coconut Craft Khas Kulonprogo”. Sementara proposal PKM Center UGM berjudul “Bank Jamint”, Peningkatan Produktivitas Masyarakat Desa Jetak melalui Pengolahan Jahe Merah dan Ngepos Mint-Aquaponic”.

Kasubdit Kreativitas Mahasiswa Direktorat Kemahasiswaan UGM, Ahmad Agus Setiawan, ST, M Sc, Ph D, Rabu (31/5/2017) di UGM, menyampaikan dari UGM mengirimkan 22 proposal dalam seleksi yang memerebutkan dana HBD Kemenristekdikti. Dari jumlah tersebut, dua di antaranya berhasil memeroleh dana Kemenristekdikti.

“Alhamdulilah upaya yang kita lakukan membuahkan hasil,” jelasnya.

Sementara Verna Ardhi Hafsari, Ketua Tim PHBD dari BEM Fakultas Teknik UGM menuturkan,   program pemberdayaan akan dilakukan di Dusun Plampang 1, Kokap, Kulonprogo. Ide memberdayakan masyarakat untuk mengolah limbah serabut kelapa berawal dari minimnya pemanfaatan potensi bahan tersebut. Padahal, wilayah itu memiliki potensi kelapa yang sangat berlimpah. Oleh sebab itu, dia bersama dengan 11 temannya mengajak masyarakat setempat untuk memanfaatkan limbah serabut kelapa diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi serta ramah lingkungan, seperti kerajinan boneka, media tanam, dan gantungan kunci.

“Melalui program Co-Craft ini diharapkan dapat menyokong perekonomian masyarakat sehingga tingkat kesejahteraan masyarakat Dusun Plampang 1 semakin baik ke depannya,” ujarnya.

Muhammad Try Hartono, Ketua Tim PHBD dari PKM Center UGM mengatakan dalam program  Bank Jamint, dia dan 14 rekannya mengusung program pemberdayaan masyarakat Desa Jetak dalam budidaya jahe merah. Di daerah tersebut sebagian besar masyarakatnya membudidayakan jahe merah, namun masih dengan cara tradisional sehingga hasilnya kurang berkualitas.

“Karenanya kami berupaya mengajak masyarakat untuk melakukan budidaya jahe merah dengan sistem hidroponik. Selain itu, dipilih tanaman mint karena merupakan tanaman herbal yang masa panennya relatif lebih cepat untuk menunggu masa panen jahe merah,”paparnya.

Dia berharap dengan penerapan sistem budidaya tersebut, ke depan Desa Jetak dapat menjadi desa percontohan. Menjadi kampung herbal yang menggunakan sistem hidroponik, seperti sistem aquaponic dan sistem fertigasi dengan pengolahan tanaman herbal serta Bank Jamint sebagai salah satu bentuk Bank TOGA (tanaman obat keluarga). [Humas UGM/Ika/rts]