BULAKSUMUR, KAGAMA – Universitas Gadjah Mada (UGM) didaulat sebagai Perguruan Tinggi Negeri terbaik di Indonesia tahun 2017. Hal ini berdasarkan pengumuman pengelompokan/klasterisasi perguruan tinggi Indonesia oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti) yang dibacakan oleh Menteri  Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi usai upacara HUT Kemerdekaan RI ke-72, di Gedung Graha Widya Bhakti Puspiptek, Serpong, Kamis (17/8/2017).

UGM menempati posisi teratas pemeringkatan perguruan tinggi non-politeknik dengan total skor 3,66 disusul ITB 3,53, dan IPB 3,45. Ketiga peringkat teratas itu juga termasuk perguruan tinggi Indonesia yang masuk 500 besar dunia. Selain itu, ada juga pemeringkatan perguruan tinggi politeknik.

Sebagaimana dirilis Kemenristekdikti, klasterisasi atau perangkingan ini menyediakan landasan bagi Kemenristekdikti untuk melakukan pembinaan perguruan tinggi dalam rangka meningkatkan kualitas perguruan tinggi di Indonesia. Selain itu, agenda tahunan Kemenristekdikti ini juga bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai mutu perguruan tinggi yang ada di Indonesia.

Indikator yang digunakan dalam pemeringkatan ini, yaitu aspek sumber daya manusia (30%), kelembagaan (28%), kemahasiswaan (12%), serta penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (30%). Berbeda dari tahun sebelumnya, indikator pemeringkatan kali ini ditambah dengan kategori pengabdian kepada masyarakat, jumlah program studi terakreditasi Internasional, dan jumlah mahasiswa.

Menanggapi hal ini, Rektor UGM Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng., D. Eng. menyampaikan bahwa peringkat adalah hasil dari pekerjaan yang telah dilakukan dengan baik. Pihaknya menegaskan, tujuan universitas Pancasila ini bukan semata-mata untuk mengejar ranking, namun untuk lebih berbuat banyak demi kemaslahatan dan memberi kemanfaatan bagi masyarakat dan negara.

“Kami mensyukuri ranking itu dan menjadi motivasi bagi UGM untuk lebih giat lagi bekerja demi kemanfaatan dan kemakmuran bangsa,” ungkapnya kepada KAGAMA, melalui sambungan telepon, Jumat (18/8/2017).

Rektor melanjutkan, secara keseluruhan UGM memang meraih skor tertinggi. Tetapi dalam kriteria penilaian pengabdian masyarakat, kata Rektor, skornya terpaut jauh dengan perguruan tinggi yang lain. Hal ini karena program KKN (Kuliah Kerja Nyata) tidak dimasukkan dalam penilaian kriteria pengabdian masyarakat oleh Kemenristekdikti.

“Pengabdian yang dinilai baru pengabdian-pengabdian yang dilakukan oleh dosen-dosen kepada masyakat, dosen yang memberikan penyuluhan, bukan termasuk penerjunan KKN ke masyarakat,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, kegiatan KKN  dicetuskan oleh mendiang Prof. Koesnadi Hardjasoemantri, SH, pakar hukum UGM pada tahun 1971. Kegiatan ini selanjutnya dipertahankan sebagai kegiatan wajib mahasiswa UGM hingga sekarang.

Rektor melanjutkan, hingga saat ini UGM mengirim ribuan mahasiswanya ke berbagai daerah di Indonesia. Mereka tinggal selama kurang lebih dua bulan dan secara langsung membaur dengan masyarakat, mengadakan pelatihan, penyuluhan, dan masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya.

“Kalau saya sendiri belum mengajukan. Memang tahun-tahun lalu kriteria pengabdian kepada masyarakat belum dimasukkan sebagai indikator penilaian. Cuma di dalam menilai, KKN tidak termasuk dalam penilaian kriteria pengabdian masyarakat itu. Jadi harapan saya, KKN termasuk yang dinilai di dalam poin pengabdian kepada masyarakat,” pungkasnya.[TH]