Penjelasan Dokter RSA UGM tentang Parosmia, Gejala Baru Covid-19

223
Gejala parosmia cukup banyak dijumpai pada pasien Covid-19 di luar negeri. Foto: Ist
Gejala parosmia cukup banyak dijumpai pada pasien Covid-19 di luar negeri. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Parosmia adalah gejala gangguan penghidu/penciuman yang membuat seseorang merasa membau secara berbeda dari yang seharusnya.

Pasien dengan parosmia mempersepsikan bau yang tidak sesuai dengan kenyataannya.

Demikian disampaikan Dokter Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan dan kepala Leher (THT-KL) Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, dr. Anton Sony Wibowo, Sp.T.H.T.K.L.,M.Sc., FICS., beberapa waktu lalu.

Alumnus Kedokteran UGM angkatan 2002 ini mencontohkan, misalnya ketika membau bunga mawar seharusnya harum, tetapi pasien mempersepsikan dengan bau yang lain seperti bau tidak enak atau bau lainnya.

Persepi bau yang muncul akibat parosmia pun beragam. Anton menyebut, hal itu berbeda dengan gangguan penciuman cacosmia yang membuat seseorang membau tidak enak secara terus menerus.

Baca juga: Pemerintah Dorong Pengembangan Kawasan Industri Kendal sebagai Super Koridor Jawa Utara

“Gejala parosmia cukup banyak dijumpai pada pasien Covid-19 di luar negeri. Dalam beberapa penelitian di luar negeri diketahui kemunculan parosmia cukup banyak berkisar antara 50,3-70 persen.”

“Sementara di Indonesia penelitian terkait parosmia belum banyak dilakukan,” jelas dosen FKKMK UGM ini.

Lebih lanjut, Anton menjelaskan bahwa parosmia dapat terjadi pada pasien Covid-19 akibat virus SARS Cov 2 memengaruhi jalur proses penciuman seseorang.

Hal tersebut bisa dari reseptor saraf penciuman (saraf kranial 1), saraf penciuman, atau sampai dengan pusat persepsi saraf penciuman.

Selain akibat virus, kemunculan parosmia juga disebabkan oleh hal yang beragam.

Baca juga: Produk Merchandise Kafegama DIY Diluncurkan, Hasil Penjualan untuk Kegiatan Sosial