Owner Jawara Banten Farm Alumnus UGM: Jangan Bertani dan Beternak Hanya karena Sedang Tren

696

Baca juga: Hati-hati! Epidemiolog UGM Angkat Bicara Soal Rencana Pembukaan Bioskop Secara Serentak

“Banyak warga yang di-PHK atau dirumahkan ini pulang kampung, kemudian aktif bertani.”

“Ternyata pertanian di masa kini memiliki peran penting bagi penyerapan tenaga kerja di tengah banyaknya PHK di kota-kota besar,” ungkap alumnus Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan UGM itu.

Agis mengatakan, sebetulnya kebutuhan pangan masyarakat Indonesia masih sama, baik sebelum maupun pasca pandemi. Namun, jumlah pasokan yang saat ini menjadi persoalannya.

Kemandirian pangan harus digiatkan, mengingat adanya pembatasan kegiatan ekspor-impor. Sementara hampir 80 persen pasokan bahan pangan di Indonesia diperoleh dari impor selama ini.

Tidak mudah menjadi seorang petani dan peternak. Menurut Agis, harus ada kesiapan mental, karena bertani dan beternak juga tak luput dari berbagai tantangan.

Baca juga: Begini Cara Memilih Asuransi Kesehatan yang Tepat Selama Pandemi

“Jangan bertani dan beternak hanya karena kegiatan ini sedang tren. Kalau begitu, biasanya nanti dia tidak siap menghadapi persoalan pertanian yang dihadapi, sampai akhirnya semangat kendur dan tak berkelanjutan,” jelasnya.

Menurut Agis, mental bertani dan beternak harus dibangun di awal, karena proses penggarapannya akan sangat panjang.

Kemudian, petani dan peternak harus siap dengan ilmu dan pengalaman, terutama pola bisnis dan budidaya pertanian-peternakan.

Sebelum terjun langsung, sangat baik jika calon petani atau peternak magang terlebih dahulu, sehingga bisa memahami teori sekaligus praktiknya.

Agis mengatakan, bisnis dan budidaya pertanian-peternakan ini merupakan skill yang dibutuhkan petani dan peternak.

Baca juga: Sikap Bupati Ayu Retno Dumilah yang Membuat Purabaya Berubah Nama Menjadi Madiun