SISTEM Pemerintahan Tunisia berubah menjadi sekuler pascakemerdekaan republik tersebut. Bahkan, generasi mudanya ikut larut dalam sistem pemerintahan sekuler yang dipengaruhi pemikiran Marxis. Padahal, sebelum merdeka, Republik Tunisia merupakan negara Arab Muslim di Afrika Utara dengan pemikiran keagamaan (Islam).

Namun, sejak menikmati kemerdekaan, kebijakan negara lebih dipengaruhi kondisi sosial politik dalam negeri. Alhasil, berbagai kebijakan pemerintah cenderung mengarah pada proses sekularisasi Tunisia dan meminggirkan peran agama.

Abdul Fadhil dalam Ujian Terbuka Program Doktor Prodi Agama dan Lintas Budaya Sekolah Pascasarjana UGM (Foto Dok. Humas UGM)
Abdul Fadhil dalam Ujian Terbuka Program Doktor Prodi Agama dan Lintas Budaya Sekolah Pascasarjana UGM (Foto Dok. Humas UGM)

Abdul Fadhil,  Dosen Jurusan Ilmu Agama Islam FISIP Universitas Negeri Jakarta, mengungkap hal itu pada Ujian Terbuka Program Doktor Prodi Agama dan Lintas Budaya Sekolah Pascasarjana UGM, Rabu (26/7/2017).

Abdul Fadhil mengkaji novel  AthThaliyâni karya Syukrî Al-Mabkhũt yang menceritakan tentang penokohan ‘Abdun-Nâshir Ath-Thaliyâni dan orang-orang di sekitarnya. Dalam disertasinya, Abdul memaparkan terjadinya perubahan perilaku keagamaan masyarakat Tunisia yang tertuang dalam karya sastra tersebut.

Selain sekularisasi secara sistematis yang diterapkan pemerintah Tunisia, juga dipengaruhi oleh pemikiran Marxis yang berkembang bebas mempengaruhi generasi mudanya untuk menjadi pengikut kelompok kiri tersebut. Kenyataan tersebut berakibat pendangkalan nilai-nilai keagamaan, justru dilakukan pemerintah baik secara langsung dan sengaja atau tidak.

Abdul Fadhil bersama keluarga berfoto bersama usai Ujian Terbuka (Foto Dok. Humas UGM)
Abdul Fadhil bersama keluarga berfoto bersama usai Ujian Terbuka (Foto Dok. Humas UGM)

“Pengekangan hak-hak politik kelompok Islam turut mempengaruhi terjadinya perubahan perilaku keagamaan masyarakat Tunisia. Demikian pula berkembangnya materialisme dan pragmatisme dalam beragama. Tidak adanya ruang politik untuk menyuarakan aspirasi umat Islam dan sekularisasi masif menjadikan masyarakat Tunisia menjadi apatis dalam beragama dan bernegara,” urai Fadhil.

Ditambahkan Abdul, perubahan perilaku keagamaan masyarakat Tunisia yang diungkapkan dalam novel tersebut dapat dibagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama terkait  perubahan perilaku terhadap ajaran keagamaan yang normatif. Sebagai contoh, tidak menjalankan kewajiban agama, tidak mendoakan orangtua yang telah meninggal, serta lemahnya wawasan ilmu keagamaan.

Kelompok kedua berkaitan dengan perubahan perilaku yang menyangkut sikap kepribadian, seperti mabuk-mabukan, bergunjing, banyak bicara, malas, berbohong, dan suka menebar fitnah. Sementara kelompok ketiga, perubahan perilaku menyangkut nilai-nilai keluarga. Misalnya, mendidik anak dengan keras dan kasar, melawan orangtua, berzina, dan kekerasan seksual pada anak. [Humas UGM/Ika/rts]