JAKARTA, KAGAMA – Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengapresiasi kinerja antarinstansi yang telah menyukseskan penyelenggaraan Angkutan Lebaran 2017. Sehingga, pengelolaan arus mudik dan balik, baik menjelang maupun setelah Lebaran 2017 berjalan lancar.

“Mudik tahun ini Alhamdulillah berjalan lancar dan ada beberapa indikasi positif. Tapi, yang penting saya sampaikan adalah saya sangat menghargai dan mengapresiasi para stakeholder, yaitu Kepolisian, Kementerian PUPR, PT Jasa Marga, Kementerian Kesehatan, Kementerian ESDM, Pertamina, pemerintah daerah juga kooperatif sehingga ini dapat berjalan dengan baik. Tentu juga, Basarnas dan teman-teman media cetak, elektronik, online, dan media sosial juga sangat membantu kelancaran angkutan lebaran ini,” ujar Menhub di Jakarta, Senin (3/7/2017).

Menhub mencatat beberapa indikasi positif pada penyelenggaraan Angkutan Lebaran 2017 adalah angka kecelakaan yang tidak mencapai 60% dari jumlah kecelakaan pada masa Angkutan Lebaran tahun lalu, pertumbuhan angkutan udara yang melampaui 10 persen, tingkat keterisian angkutan laut jarak pendek yang mencapai 80%, dan penurunan angka pemudik dengan kendaraan pribadi.

“Angka kecelakaan turun banyak sekali. Maksimal yang sekarang ini tidak sampai 60% dari jumlah kecelakaan pada masa Angkutan Lebaran tahun lalu. Jadi, saya apresiasi yang dilakukan oleh Polri. Kecelakaan yang paling banyak terjadi di angkutan darat. Dan, itu terjadinya bukan di jalan nasional tapi malah di jalan daerah, di tingkat dua, seperti truk, dan sebagainya,” jelasnya.

Dengan adanya peningkatan pertumbuhan penumpang angkutan udara yang melampaui 10 persen dalam dua tahun ini, Menhub berpendapat ada peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat di samping peningkatan pelayanan operator bandara dan maskapai yang telah berhasil mengurangi tingkat delay.

Pada moda laut, Menhub mengakui, jumlah penumpang angkutan laut, khususnya jarak jauh belum maksimal. Tetapi, Menhub optimis untuk angkutan laut jarak pendek, seperti rute Jakarta – Semarang dari kapasitas sebanyak 20 ribu penumpang, tingkat keterisiannya sudah mencapai 80%.

Terkait moda kereta api, lebih lanjut dikatakan Menhub, demand kereta api tinggi sekali, tidak sebanding dengan supply-nya. Untuk itu, dikatakan Menhub, pemerintah saat ini akan membangun kereta api dengan peningkatan kecepatan mencapai 150 kilometer/jam. Dengan kereta ini, jarak 700 kilometer dapat ditempuh dalam waktu 4,5 jam, tanpa berhenti. “Pemerintah akan membangun kereta api dengan peningkatan kecepatan mencapai 150 kilometer/jam dari Jakarta – Surabaya yang kapasitasnya bisa meningkat tiga kali lipat dari sekarang,” ujarnya.

Akan tetapi, di balik keberhasilan penyelenggaraan Angkutan Lebaran 2017, masih terdapat sejumlah masalah yang masih diperlukan jalan keluar, seperti banyaknya pemudik pengguna jalan tol yang berhenti di tempat peristirahatan cukup lama dan parkir di badan jalan. “Saya menyadari, pemudik memiliki waktu yang cukup dan tidak tergesa-gesa untuk kembali ke Jakarta. Sehingga, memanfaatkan perjalanan pulang untuk leisure time dan berhenti di tempat istirahat,” ungkapnya.

Terkait hal ini Menhub telah menyampaikan kepada PT Jasa Marga untuk berinovasi dengan membuat clustercluster di setiap rest area yang mengedepankan aneka ragam kearifan lokal. [rts]