Konsep Smart City, Smart Mobility Untuk Pengembangan Transportasi di Ibu Kota Baru Indonesia

30
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi didampingi Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema 'Menggali Potensi Konektivitas Ibu Kota Baru' di Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (19/9/2019). Foto : Kemenhub
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi didampingi Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema 'Menggali Potensi Konektivitas Ibu Kota Baru' di Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (19/9/2019). Foto : Kemenhub

KAGAMA.CO, BALIKPAPAN – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyiapkan konsep “Smart City, Smart Mobility” untuk melakukan pengembangan sektor transportasi di ibu kota baru Indonesia.

Konsep ‘Smart City, Smart Mobility’ tersebut adalah membuat sistem transportasi yang ramah lingkungan dan berteknologi tinggi.

Pemikiran tersebut mengemuka dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema ‘Menggali Potensi Konektivitas Ibu Kota Baru’ di Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (19/9/2019).

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dalam kata sambutannya, menyatakan bahwa transportasi massal menjadi angkutan utama yang digunakan oleh masyarakat di ibu kota baru.

Salah satu yang bisa digunakan adalah transporasi massal bernama Autonomus Rail Rapid Transit (ART).

“Angkutan massal yang dibangun di ibu kota baru diantaranya adalah kereta api, karena ramah lingkungan dan kapasitasnya banyak, dan waktunya juga tepat.”

“Salah satu jenis kereta api yang berteknologi tinggi yang bisa digunakan yaitu ART atau kereta tanpa rel,” ujar Mehub Budi.

Baca juga : Infrastruktur Angkutan Massal Ramah Lingkungan Jadi Prioritas di Ibu Kota Baru

Dia menjelaskan, penggunaan ART ini dapat menekan biaya investasi karena tanpa perlu membangun jalur rel kereta api.

Namun, Menhub mengatakan masih akan mengkaji lebih lanjut karena ini termasuk teknologi yang baru.

Sebelum menggunakan ART, ia mengatakan akan menggunakan moda transportasi bus terlebih dahulu.

“Karena investasi rel itu mahal sekali, 1 kilometer itu bisa sampai Rp200 hingga Rp300 miliar, kalau eleveted bisa Rp400 miliar.”

“Kalau ini dia tanpa menggunakan rel sehingga menekan harga. Tapi teknologinya ini kan baru, jadi kita gunakan dulu bus gandeng.”

“Tapi untuk kedepannya, konsep yang disiapkan adalah ART,” jelas Menhub Budi.

Ibu Kota Baru yang Ramah Lingkungan

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor mengatakan bahwa Kalimantan merupakan paru-paru dunia yang alamnya harus dijaga, maka seluruh pembangunan ibukota baru harus ramah lingkungan agar tidak kehilangan paru-paru dunia.

“Pembangunan ini 60 persennya ruang terbuka hijau dan harus ada reboisasi yaitu hutan yang ditebang ditanam kembali di tempat lain.”

“Hutan jangan sampai tertanggu polusi. Kalimantan ini diawasi seluruh dunia bukan hanya Indonesia,” ungkap Isran.

Kepala Badan Litbang Kemenhub Sugihardjo juga menjelaskan hal yang senada bahwa transportasi ibukota baru akan dibuat lebih ramah lingkungan (eco friendly).

Baca juga : Solusi Mengurangi Kerusakan Hutan di Lokasi Ibu Kota Baru

Ia mengatakan, 65 persen dari ibu kota baru tersebut harus terdiri dari ruang terbuka hijau.

“Kami akan membangun ibukota yang modern dan cerdas.”

“Maka dari itu kita akan menyusun teknologi transportasi yang bagus, agar masyarakat kalau mau menggunakan transportasi bisa dengan jalan kaki dan tentunya harus eco friendly,” kata Sugihardjo.

Rencananya beberapa infrastruktur sarana dan prasarana lain akan dibangun di ibu kota yang menjadi pusat pemerintahan tersebut, seperti pedestrian, e-bike, e-scooter) dan juga LRT atau MRT. (Kemenhub/Josep)