Sementara Dekan FTP UGM menuturkan Indonesia dikenal sebagai dapur gastronomi dunia yang emmiliki banyak variasi ragam hidangan yang menggugah selera. Sayangnya kuliner Indonesia masih kurang dikenal secara global.

Padahal berdasarkan hasil survey CNN sejak tahun 2007 sampai 2017, nasi goreng menempati peringkat kedua makanan terenak di dunia setelah rendang, sedangkan sate menempati urutan kesepuluh hingga empat belas.  Hal ini menunjukkan bahwa seni dapur Indonesia telah mengangkat martabat bangsa dalam hal menyumbangkan nikmat bagi bangsa-bangsa di dunia dan sangat potensial untuk dikembangkan menjadi ekonomi kreatif yang dapat meningkatkan pendapatan nasional.

“Oleh karena itu perlu dilakukan upaya-upaya yang strategis dari berbagai pihak untuk memperkuat pelaku usaha kuliner dan para pemangku kepentingan agar kuliner Indonesia dapat bersaing di tataran internasional maupun di tanah air sendiri dari serbuan kuliner asing,” paparnya.

Selain menghadirkan parade sate dan nasi goreng turut digelar seminar Nasi Goreng dan Sate yang akan mengupas tuntas seputar nasi goreng dan sate baik dari segi sejarah, asal usul, ekonomi, keilmuan pangan, maupun dari segi pariwisata oleh para pakar yang ahli di bidang-bidang tersebut. Lalu, lomba fotografi nasi goreng dan sate, Master Class: Nasi Goreng oleh Bapak William Wongso, teknik memotong daging dan penyiapan bumbu serta teknik membakar sate oleh Chef Yanto Budidarma, Food Styling oleh Rochmat Septiawan, dan Food Photography oleh Agung Portal. Pada acara ini juga akan digelar Parade Sate yang akan dipandu oleh pakar kuliner Indonesia Sisca Soewitomo.

Ketua Panitia kegiatan Dr.Ir. retno Indarti, M.Sc., menjelaskan Konferensi dan Festival Kuliner “Nasi Goreng dan Sate” yang bertajuk “Kupas Tuntas Strategi Nasi Goreng dan Sate dalam Menembus Citarasa dan Pasar Dunia” diselenggarakan oleh  Fakultas Teknologi Pertanian, Pusat Studi Pangan dan Gizi, serta Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat bersama dengan Bekraf. Ditujukan untuk memperdalam pengetahuan, pemahaman, serta strategi pengembangan kuliner Indonesia khsusunya sate dan nasi goreng. (Humas UGM/Ika; foto Firsto)