Energi Baru dan Terbarukan Sangat Cocok bagi Indonesia

36
Dosen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM, Ahmad Agus Setiawan, menerangkan strategi pengembangan Energi Baru dan Terbarukan di Indonesia. Foto: Ist
Dosen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM, Ahmad Agus Setiawan, menerangkan strategi pengembangan Energi Baru dan Terbarukan di Indonesia. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Australia menggelar webinar bertajuk Aspek Keberlanjutan dan Energi, Kamis (24/9/2020).

Webinar ini digelar bersamaan dengan bedah buku Mewujudkan Indonesia 4.0: Kumpulan Pemikiran Pelajar Indonesia di Australia.

Salah satu narasumber yang diundang adalah Staf Ahli Energi Kantor Staf Presiden RI, Dr. Ahmad Agus Setiawan.

Dalam pemaparannya, Agus mengatakan Indonesia sudah bukan lagi anggota OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) sejak 2004.

Artinya, status Indonesia saat ini adalah importir minyak. Meski begitu, Agus melihat bahwa hal ini adalah kesempatan emas bagi Indonesia untuk membuktikan diri dengan inovasi sumber energi yang berkelanjutan.

Baca juga: Budi Karya Sumadi: Indonesia Mampu Bertahan dan Melewati Krisis Berkat UMKM

“Pada 2019 kita mostly importir energi secara umum. Mau tidak mau kelak energi alternatif akan menjadi energi pokok,” tutur Agus.

“Energi terbarukan harus masuk dan mengambil porsinya. Kita harus meninggalkan sesuatu (legacy) untuk anak cucu kita,” jelasnya.

Menurut Agus, era disruptif akibat Covid-19 memaksa Indonesia harus bangkit sekaligus segera berubah.

Targetnya jelas, yakni merealisasikan bauran Energi Baru dan Terbarukan (EBT) hingga 23 persen pada 2025 dan 31 persen pada 2050.

Hal itu telah diatur dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

Baca juga: Begini Persaingan Pasar yang Dihadapi Medical Supplier Industry di Masa Pandemi