HUNAN, KAGAMA. Tiap negara ASEAN Plus Three (APT) mesti mulai merancang strategi baru untuk kawasan yang lebih baik di tengah situasi global yang semakin tidak menentu. Pandangan tersebut disampaikan Duta Besar Djauhari Oratmangun dalam sesi Tinjauan 20 Tahun Kerja Sama APT dan Langkah ke Depan (Review of the 20th Years of APT Cooperation and Way Forward), di Pertemuan East Asia Forum (EAF) ke–15 di Changsa, Provinsi Hunan, Republik Rakyat Tiongkok, belum lama ini.

Selama 20 tahun terakhir, ASEAN Plus Three (Jepang, Korea Selatan dan Tiongkok) telah berhasil membangun kerja sama ekonomi yang kuat dan membuat kawasan Asia Timur menjadi salah satu kekuatan ekonomi di dunia. Prestasi tersebut merupakan hasil dari kerja sama politik dan keamanan yang solid.

“Lalu apa yang kemudian perlu dipersiapkan untuk 20 tahun ke depan dengan kondisi global yang terus berubah?” ujar alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada angkatan 1976 ini.

Dubes Djauhari Oratmangun menyatakan, APT harus menjadi penjaga perdamaian dan stabilitas di wilayah di mana perdamaian, keamanan, stabilitas dan kemakmuran tumbuh subur.
Dubes Djauhari Oratmangun menyatakan, APT harus menjadi penjaga perdamaian dan stabilitas di wilayah di mana perdamaian, keamanan, stabilitas dan kemakmuran tumbuh subur.

Menurut Dubes Djauhari, masing-masing negara APT harus mulai merancang strategi baru untuk kawasan yang lebih baik di tengah situasi global yang semakin tidak menentu dengan berbagai tantangan terkait terorisme dan ekstremisme dengan kekerasan, kejahatan transnasional, keamanan dunia maya, keamanan maritim, perubahan iklim, manajemen bencana, pengelolaan sumber daya air, ketersediaan pangan, keamanan energi, dan penyakit pandemik.

“Indonesia memiliki visi bahwa 20 tahun ke depan, APT harus menjadi penjaga perdamaian dan stabilitas di wilayah di mana perdamaian, keamanan, stabilitas dan kemakmuran tumbuh subur. Untuk mencapai visi tersebut, kerja sama antara negara-negara APT harus terus diperkuat,” papar Djauhari.

“Karena selain tantangan yang telah disebutkan di atas, terdapat tantangan ekonomi global yang perlu ditangani melalui kerja sama inovatif di bidang keuangan, perdagangan, industri kreatif dan investasi termasuk informasi serta teknologi dan knowledge-based economy. Jadi, dalam mewujudkan integrasi regional ini, kita harus selalu menjunjung tinggi Kesatuan dan Persatuan ASEAN,” tuturnya lagi. (ojos)