SESEORANG pernah berteriak-teriak

menghujat seseorang lelaki yang dimakinya tak punya mata

Ah, Aku ingat, lelaki yang dimakinya tak punya mata itu

Dahulu aku sering menggenggam tangannya

Aku ingat, matanya memang terpejam

Tapi, nyata: ia melihat lebih banyak dari kami semua

Memandang lebih dalam dari kami yang matanya membelalak

Dan, menyaksikan lebih jauh dari mata kami yang terbuka lebar”

Penggalan puisi dengan judul “Lelaki yang Tak Punya Mata”, Sabtu (20/1/2018) lalu dibacakan syahdu oleh Alissa Wahid, putri KH Abdurrahman Wahid atau akrab dipanggil Gus Dur, di acara “Tahlil Kebangsaan” di Laboratorium Agama Masjid Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Tahlil Kebangsaan merupakan rangkaian acara Sewindu Haul Gus Dur yang sudah diselenggarakan sejak Kamis (4/1/2018) hingga Senin (5/2/2018) pekan depan.

Alissa Wahid yang memiliki nama lengkap Alissa Qotrunnada Munawaroh, dulu menempuh kuliah S1 di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), menceritakan bagaimana Gus Dur mencintai Indonesia, membela manusia dan keadilan. Gus Dur memperjuangkan persaudaraan dan kemanusiaan serta menolak segala penindasan. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai luhur keindonesiaan.

“Gus Dur sebenarnya tidak membela minoritas. Beliau hanya memperjuangkan keadilan,” ucap Alissa.