KAGAMA.CO, BANTUL – Akademisi dan alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) menyukai batik pewarna alami yang diproduksi Dedi H Purwadi. Dalam tiga bulan terakhir dosen, dokter, dan alumni Kampus Biru lainnya, belajar membatik pada Batik Jolawe yang dikelola Dedi H Purwadi di Dusun Kalangan Desa Bangunjiwo Kecamatan Kasihan Kabupaten Bantul – DIY.

“Dosen, dokter, juga alumni UGM lainnya mulai suka. Mereka minta diberi pelatihan membatik,” ungkap Pengelola Batik Jolawe Dedi H Purwadi, alumnus  Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM Angkatan 1981 ditemui kagama.co, Senin (11/12/2017) di studio yang juga kediamannya.

Gencarnya permintaan pelatihan membatik, lanjut Dedi, mulai datang sejak akun facebook-nya berteman dengan akun facebook grup KAGAMA. Selanjutnya, banyak yang menanyakan teknik pembuatan batik pewarna alami. Kemudian akun mereka, ditautkan ke blog batikjolaweyogya.blogspot.com. Meski demikian, jauh sebelumnya juga sudah banyak permintaan pelatihan di studionya, terutama dari kalangan guru dan siswa.

“Beberapa dari mereka sudah menerapkan pewarnaan alami dengan teknik shibori, ada jumputan, ada juga yang meneruskan membatik,” terang mantan redaksi senior Bernas dan peneliti di LP3Y.

Setelah diberi materi oleh Dedi, peserta workshop dari akademisi dan alumni UGM kemudian melanjutkannya dengan kegiatan rutin setiap Sabtu pagi di kampus UGM bertemu dan mendalami keterampilan membatik dengan pewarna alami.

Dedi yang merintis batik pewarna alami bersama istrinya, WIneng W Winarni sejak 2014, juga mengungkap ketertarikan dirinya pada batik pewarna alami, antara lain pertimbangan masalah kesehatan dan lingkungan. Mengingat, limbah pada pewarna alami – dari proses fiksasi – tidak setajam limbah dari pewarna sintetis. Selain itu, dari hasil penelitian, limbah pewarna alami juga masih bisa diurai dalam tanah sehingga masih bisa ditolerir.

“Terutama juga, untuk mendapatkan pewarna alami sangat mudah. Semua tersedia di sekitar kita. Di samping rumah kami ada pohon jolawe. Di belakang itu ada tom (Indigofera tinctoria). Kita juga bisa membuat pewarnaan dari kulit buah rambutan, kulit bawang merah, dan lainnya,” pungkas Dedi yang mengenakan kemeja dari hasil kreasinya, batik dengan pewarna kulit buah rambutan. [rts]