Ahmad Agus Setiawan: Pembangunan Harus Mulai Memperhatikan Energi Terbarukan

39
Ahmad Agus Setiawan.(Foto: Maulana)
Ahmad Agus Setiawan.(Foto: Maulana)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Pertumbuhan energi di Indonesia yang dilihat melalui jangkauan listrik secara nasional tampak sudah sangat menjanjikan. Dalam catatan terakhir, listrik telah menjangkau 98 persen wilayah, meskipun ada beberapa tempat yang masih terbatas pada penggunaan beberapa lampu atau durasi pemakaian listriknya.

Hal ini disampaikan oleh pakar energi terbarukan, Ahmad Agus Setiawan, ST., M.Sc., Ph.D. saat ditemui Kagama di Departemen Teknik Nuklir dan Fisika, UGM, belum lama ini.

Melihat tren dunia internasional seperti Tiongkok dan India yang fokus pada energi terbarukan, kata Agus, Indonesia juga harus mulai bergerak ke sana. Untuk mengembangkan energi terbarukan, Indonesia perlu membuka semua opsi yang ada.

Agus pun memberikan contoh dengan pemanfaatan tenaga nuklir. Apabila opsi ini dipilih, maka harus memperhatikan daerah yang secara kebumian letaknya paling stabil.

“Kami pernah survei ke Bangka Belitung yang secara kebumian letaknya paling stabil. Namun, apakah lokasi tersebut dapat mentransfer energi ke wilayah pusat beban yang berada di Jawa, Bali, dan Madura? Ini perlu dipikirkan kembali,” paparnya.

Pria penggemar B.J. Habibie ini mengungkapkan bahwa situasi energi di Indonesia pada tahun 2019 memasuki waktu yang paling krusial. Alasannya adalah produksi energi di Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun, sedangkan kebutuhannya semakin meningkat. Pada tahun ini, kata Agus, terjadi persimpangan antara penurunan produksi dan peningkatan kebutuhan energi.

“Pada tahun 2019 ini sumber daya alam (SDA) untuk kebutuhan energi mulai habis, padahal generasi penerus bangsa masih membutuhkan kehidupan yang lebih panjang,” ungkap Agus.

Agus memberikan keyakinan untuk mengatasi masalah energi ini dengan contoh kasus di Jepang dan Korea. “Jepang harus menggunakan nuklir sebagai energi karena sudah kepepet dan tidak memiliki pilihan SDA lainnya,” ujarnya.

Berbeda dari Jepang, Korea menjadi contoh kasus yang paling relevan bagi Indonesia. Mereka pernah dijajah Jepang dan mengalami kondisi negara yang susah. Akan tetapi, mereka memulai sebagai industrial giant ketika memasuki era 80-an.