Kata Dosen FIB UGM, Social Distancing adalah Cara Beragama yang Menghargai Kehidupan

988
Dosen FIB UGM, Achmad Munjid, Ph.D., meyakini bahwa social distancing bukan sekadar imbauan yang harus diterapkan dalam Bulan Ramadan. Foto: Aifis
Dosen FIB UGM, Achmad Munjid, Ph.D., meyakini bahwa social distancing bukan sekadar imbauan yang harus diterapkan dalam Bulan Ramadan. Foto: Aifis

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Bulan Ramadan adalah masa-masa sulit dalam menghadapi wabah virus corona.

Pasalnya, Indonesia akan mengalami periode kritis pandemi dalam 15 hari pertama Bulan Ramadan.

Setelah itu, Indonesia bakal berhadapan dengan periode puncak wabah. Yakni pada
15 hari terakhir Ramadan plus 5 hari pasca lebaran.

Hal tersebut seperti dijelaskan oleh peneliti Pemda DIY alumnus Teknik Elektro UGM, Dr. Joko Hariyono, belum lama ini.

Berkaca pada kasus di Tiongkok, waktu yang diperlukan untuk bisa keluar dari wabah adalah tiga bulan.

Baca juga: Gotong Royong KAGAMA Sumut Bantu Pemerintah Lawan Covid-19

Karena itu, Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM, Achmad Munjid, Ph.D., berpesan agar masyarakat terus berupaya. Hal itu agar kemungkinan terburuk tidak terjadi.

“Menurut prediksi, jika skenario buruk itu terjadi, maka jutaan manusia mungkin akan dinyatakan positif dan ratusan ribu nyawa akan terancam kematian,” ucap Munjid di Instagram UGM.

“Supaya kita bisa keluar secara bersama-sama dari krisis ini dengan selamat, mari kita berdisiplin lebih ketat, bekerja lebih keras, dan bekerja sama lebih efektif.”

“Sehinga waktu yang kita butuhkan untuk mengatasi wabah ini akan lebih singkat,” sambungnya.

Sekretaris ­Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM ini memprediksi, jika warga Indonesia ceroboh, keadaan akan semakin bubrah.

Baca juga: Mewujudkan Cita-cita Ki Hajar Dewantara Lewat Momentum Merdeka Belajar dan School From Home