Minggu, 26 Mei 2024 | 09:33 WIB

Pengabdian Alumnus FIB UGM Rawat “Keramik yang Retak” : Yang Tak Tertangani Keluarga, Masyarakat, dan Negara [2]

Namun, ada seorang pasien yang lain daripada lainnya. Dia terbilang alim, orang berilmu, seorang hafidz, penghafal Al Qur’an. Namanya, sebut saja: Madani.

Trihardono tidak habis pikir, mengapa hafidz mengalami gangguan jiwa? Dia menyebutnya sebagai ujian Allah SWT. Dan, menariknya, suatu kali ada pasien baru diantar keluarganya datang ke pondoknya mengatakan, kedatangan mereka mengantar anaknya yang sakit dan yang bisa menyembuhkan, seorang ulama yang menetap di Kuton, sebuah tempat yang ternyata untuk rehabilitasi. Pasien baru itu akhirnya ikut direhabilitasi di pondok dan akhirnya sembuh.

“Saya punya cara beda-beda menangani pasien. Tergantung latar belakangnya. Kalau dengan kiai yang hafidz itu, saya justru yang cium tangan. Dia rajin membantu di dapur. Saya beri kebebasan dia. Pernah beberapa hari tidur di gubug tengah sawah, di tengah hujan lebat,” imbuhnya.

Begitulah kehidupan Trihardono di pondoknya. Setiap saat ia bergaul, berinteraksi, dan berkomunikasi dengan 73 orang dengan gangguan jiwa. Ia tidak menerapkan metodologi ilmiah selama merehabilitasi mereka. Metodenya hanya zikir setiap usai shalat lima waktu, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta untuk memohon pertolongan dan kesembuhan. Karena, tiada penolong sejati atas hidup umat-Nya, selain Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Psikolog pernah ke sini tapi angkat bahu. Akademisi pernah berkunjung. Mungkin mereka menganggap ini nggak prestisius. Tapi, mereka nggak melakukan apa pun karena nggak kuat. Mereka nggak kuat karena di sini nggak pakai ilmu tapi pakai hati,” ungkap ayah dari empat anak ini.

Menurut Trihardono, yang dibutuhkan mereka sederhana. Mereka tidak membutuhkan penerapan metode dari ilmu pengetahuan, melainkan pendekatan atau sentuhan dengan hati. Alhasil, ukuran targetnya, kalaupun akhirnya ada yang sembuh, hal itu karomah karena sebelumnya mereka tidak berharap. Keluarga mereka pun juga sudah tidak berharap. Karenanya, Trihardono selalu memberikan gambaran pahit, bukan janji mampu menyembuhkan.

“Alhamdulillah kalau ada yang sembuh. Itu karomah. Sesuatu yang tak diharap justru terjadi,” cetusnya. [RTS]


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA