Mahasiswa dan Birokrat Papua Studi Lapangan ke XT Square

600

YOGYAKARTA, KAGAMA – Mahasiswa dan birokrat Pemerintah Daerah Papua yang menempuh Program Studi Magister Administrasi Publik (MAP) Universitas Cenderawasih (UNCEN) Papua yang tengah menyelesaikan studi MAP  Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) mengikuti kuliah lapangan di XT Sxuare, Umbulharjo, Yogyakarta, Jumat (11/8/2017) sore. Studi lapangan itu diikuti mahasiswa dan dosen sejumlah 30 orang Prodi MAP, terdiri 26 mahasiswa dan empat dosen UNCEN. Mereka juga didampingi mahasiswa dan dosen MAP Fisipol UGM.

Birokrat dan mahasiswa Prodi MAP UNCEN yag tengah menempuh Prodi MAP Fisipol UGM mengikuti studi lapangan dan mendengarkan paparan Dirut XT Square M Verga Prabowo Agus (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)
Birokrat dan mahasiswa Prodi MAP UNCEN yag tengah menempuh Prodi MAP Fisipol UGM mengikuti studi lapangan dan mendengarkan paparan Dirut XT Square M Verga Prabowo Agus (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)

Selain mengikuti paparan mengenai tata kelola XT Square, mereka juga mendapat kesempatan berkeliling mengunjungi beberapa gedung pertemuan, outlet kerajinan, panggung seni, dan wahana wisata di lingkungan XT Square, seperti Museum De Mata, Museum De Arca, Kantor Manajemen,  komplek toko atau kios yang menawarkan hasil kerajinan dan aneka bentuk serta jenis cenderamata khas Kota Budaya dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) serta menikmati kuliner outdoor.

Kepala Program Studi MAP Universitas Negeri Cenderawasih (UNCEN), Papua Prof. Dr. Agustinus Fatem, M. T. mendampingi mahasiswanya (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)
Kepala Program Studi MAP Universitas Negeri Cenderawasih (UNCEN), Papua Prof. Dr. Agustinus Fatem, M. T. mendampingi mahasiswanya (Foto R Toto Sugiharto/KAGAMA)

Dari Direktur Utama XT Square Muhammad Verga Prabowo Agus, mereka mendapat penjelasan tentang XT Square sebagai hasil inovasi yang baik karena mampu mengelola suatu kawasan terpinggir namun juga memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sehingga, keberadaan XT Square mampu mengubah wajah perekonomian wilayah Kota Yogyakarta selatan.

Kenyataan tersebut, menurut Verga, menunjukkan profesionalitas dalam pengelolaan serta pelayanan publik. Mengingat, dalam waktu lima tahun sudah mampu memberikan tambahan pendapatan asli daerah (PAD) bagi Pemerintah Kota Yogyakarta.

Birokrat Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya, Papua, Yosias, S. E. yang menjabat Sekretaris Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Puncak Jaya, Papua tengah mengunjungi kios cenderamata di lingkungan XT Square Yogyakarta (Foto Maulana/KAGAMA)
Birokrat Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya, Papua, Yosias, S. E. yang menjabat Sekretaris Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Puncak Jaya, Papua tengah mengunjungi kios cenderamata di lingkungan XT Square Yogyakarta (Foto Maulana/KAGAMA)

Verga, antara lain mendeskripsikan XT Square sebagai lini usaha yang menjadi bagian sebuah holding company yang dikelola BUMD atau perusahaan daerah Jogjatama Vishesha. Jumlah pengunjung XT Square dalam kurun dua tahun terakhir, 2015 dan 2016 pun mengalami kenaikan signifikan, yaitu dari sejumlah 1,2 juta orang per tahun (2015) naik menjadi sebanyak 1,4 juta orang per tahun (2016).

Prof. Dr. Agustinus Fatem, M. T. (56) selaku Kepala Program Studi MAP UNCEN, Papua menjelaskan, sejak Prodi MAP UNCEN berdiri pada 2011 dan hingga kini memasuki tahun angkatan keenam, telah meluluskan mahasiswanya mencapai 160-an orang. Selanjutnya, UNCEN membuka program unggulan selain prodi  untuk mahasiswa tingkat sarjana (S-1) atau program regular ada pula kelas khusus birokrat.

“Kami membuka kelas fresh graduate dari jalur regular dan kelas khusus untuk birokrat. Ada dari pemerintah provinsi, kabupatean, dan kota. Ada yang menjabat bupati, wakkil bupati, kepala dinas atau organisasi daerah,” papar Fatem di sela-sela mendampingi mahasiswanya.

Praktisi MAP Arum Kusumaningtyas, SIP, M. Sc. dari Index Politica ikut mendampingi kegiatan studi lapangan birokrat dan mahasiswa dari Papua (Foto Maulana/KAGAMA)
Praktisi MAP Arum Kusumaningtyas, SIP, M. Sc. dari Index Politica ikut mendampingi kegiatan studi lapangan birokrat dan mahasiswa dari Papua (Foto Maulana/KAGAMA)

Selanjutnya, seiring meningkatnya animo untuk prodi MAP pun semakin berkembang. Maka, dibukalah program enrichment programe atau program pengkayaan, yakni berupa studi lapangan. Kemudian, pihaknya memilih MAP Fisipol UGM karena sebagai universitas yang pertama kali membuka prodi MAP.

“Kami perlu membawa mahasiswa kami ke MAP Fisipol UGM karena merupakan perintis program MAP di Indonesia sehingga kami perlu bawa mahasiswa kami di sini. Mereka ada diskusi bersama mahasiswa dan dosen MAP Fisipol UGM. Dan, ada visit study ke XT Square, bagaimana BUMD melakukan pelayanan publik kepada masyarakat. Diharapkan dari hasil kunjungan ini di samping menambah wawasan akademik juga ada pengalaman praktis dan harapannya bisa terinspirasi. Ada hal-hal yang bisa mereka bawa untuk mengembangkan daerahnya. Dari kami sebagai pengelola MAP ada muatan materi ajar yang semakin kaya,” terang Fatem.

Salah satu mahasiswa MAP UNCEN yang tengah menempuh MAP Fisipol UGM Yosias, S. E. yang menjabat sebagai Sekretaris Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) di Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya, Papua mengaku senang dan memperoleh banyak informasi sehingga menambah wawasan keilmuannya. Ia juga merasa telah mendapatkan inspirasi untuk dikembangkan di daerahnya.

 

Usai studi lapangan dan menerima paparan Dirut XT Square di Vip Room, mahasiswa dan birokrat Papua berfoto bersama di koplek XT Square (Foto Maulana/KAGAMA)
Usai studi lapangan dan menerima paparan Dirut XT Square di Vip Room, mahasiswa dan birokrat Papua berfoto bersama di koplek XT Square (Foto Maulana/KAGAMA)

 

“Sangat menarik dari profesi kami sebagai birokrat. Dari sini ada pengetahuan tentang pelayanan publik. Dari kami misalnya, sudah ada modal, seperti pembangunan infrastruktur sudah lebih maju meski masih butuh proses dan waktu. Kami berusaha dari pengalaman di sini kami bisa sesuaikan di daerah kami. Kami punya daerah sudah ada tapi bagaimana inovasi bisa muncul di sana,” ujar Yosias.

Sementara itu, salah satu praktisi MAP  Arum Kusumaningtyas, SIP, M. Sc. dari Index Politica mendampingi kegiatan studi lapangan di XT Square dengan menunjukkan kepada mahasiswa MAP UNCEN mengenai konsep pengelolaan XT Square dan pelayanan publik yang dirintis dan dikembangkan Jogjatama Vishesha dengan berbasis potensi daerah.

“Yang kami tunjukkan kepada teman-teman Papua, inovasi dilakukan tetap dengan memahami potensi daerah. Antara Puncak Jaya dengan Yogya tentu beda. Kami jelaskan tentang pengelolaan manajemen XT Square. Kuncinya harus unik dan dikelola profesional,” ucap mantan Staf Analis Politik Dalam Negeri di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. [rts]