Dubes M Wahid Supriyadi : Warga Rusia Suka Karya Klasik

136

“Ternyata masyarakat Rusia menyukai karya-karya klasik. Tahun lalu sebenarnya kita coba-coba saja. Ternyata sambutannya luar biasa…”

Demikian simpulan Duta Besar (Dubes) RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi yang ikut menyaksikan Pementasan Wayang Kulit Purwa dalam Festival Indonesia Moskow (FIM) 2017, Minggu (6/8/2017) di Moscow Hermitage Garden, Rusia.

Penyerahan tokoh wayang oleh Panitia FIM 2017 kepada dalang Ki Dr Eddy Pursubaryanto sebelum pergelaran wayang kulit purwa dilaksanakan (Foto ISTIMEWA)
Penyerahan tokoh wayang oleh Panitia FIM 2017 kepada dalang Ki Dr Eddy Pursubaryanto sebelum pergelaran wayang kulit purwa dilaksanakan (Foto ISTIMEWA)

Festival yang berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu (4-6/8/2017) itu berhasil menyedot perhatian para pengunjung. Festival yang digelar KBRI Moskow tahun ini secara khusus menyelenggarakan pementasan wayang kulit hampir setiap hari. Masing-masing, di panggung utama (main stage) sebanyak dua kali pementasan dan di tenda terpisah (10×10 m) juga dua kali pementasan. Setiap pementasan wayang kulit di Hermitage Garden, baik masing-masing di main stage dan tenda terpisah, selalu dipadati para pengunjung yang berdesakan ingin menyaksikan wayang kulit purwa dari Indonesia.

Tidak hanya puas menonton, bahkan masyarakat asing Rusia yang berminat dan ingin belajar cara memainkan wayang dan gamelan mendapat kesempatan ikut pelatihan. Termasuk juga pelatihan berupa master class wayang oleh dalang Ki Dr. Eddy Pursubaryanto dan Master Class gamelan oleh composer (penata iringan) Tri Koyo.

Dalang Ki Dr Eddy Pursubaryanto tengah mempersembahkan lakon "Dasamuka Lena" (Foto ISTIMEWA)
Dalang Ki Dr Eddy Pursubaryanto tengah mempersembahkan lakon “Dasamuka Lena” (Foto ISTIMEWA)

Dalang Ki Dr. Eddy Pursubaryanto, seorang dalang dan dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), satu almamater dengan Dubes Wahid Supriyadi,  didatangkan spesial dari Yogyakarta untuk menggebyar Moskow dengan wayang kulit purwa untuk mempromosikan kebudayaan Indonesia di negeri beruang merah Rusia.

Warga Rusia terpukau menyaksikan pergelaran wayang kulit purwa asli Indonesia yang dimainkan dalang yang juga dosen Departemen Bahasa dan Sastra Prodi Sastra Inggris FIB UGM (Foto ISTIMEWA)
Warga Rusia terpukau menyaksikan pergelaran wayang kulit purwa asli Indonesia yang dimainkan dalang yang juga dosen Departemen Bahasa dan Sastra Prodi Sastra Inggris FIB UGM (Foto ISTIMEWA)

Wayang kulit yang dibawakan dalam pementasan mengambil lakon ‘Dasamuka Lena’. Pergelaran berdurasi sekitar 45 menit itu dibagi dalam tiga adegan utama yang menyatu dalam satu pertunjukan. Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan dengan dwi bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan Rusia.

Pergelaran diawali gending ayakayak sebagai pembuka dan diiringi adegan flashback Dasamuka dan Shinta. Dilanjutkan gending srepeg nem. Untuk adegan perang digunakan gending sampak patet nem diulang-ulang.

Warga Rusia dari segala usia, anak-anak, remaja, dwasa, dan lanjut usia, sama-sama antusias menyaksikan pergelaran wayang kulit purwa, seni budaya klasik asli Indonesia (Foto ISTIMEWA)
Warga Rusia dari segala usia, anak-anak, remaja, dwasa, dan lanjut usia, sama-sama antusias menyaksikan pergelaran wayang kulit purwa, seni budaya klasik asli Indonesia (Foto ISTIMEWA)

Iringan gamelan dibawakan oleh Dadali Gamelan Group pimpinan Tri Koyo, seorang composer (penata iringan) dengan anggota grup gamelan yang terdiri dari warga Rusia dan warga Indonesia. Kolaborasi itu menunjukkan kekompakan antardua bangsa dalam pertunjukan wayang dan gamelan Indonesia.

Warga Rusia tidak puas hanya menonton, melainkan juga mengikuti pelatihan cara memainkan wayang kulit purwa dan menabuh gamelan (Foto ISTIMEWA)
Warga Rusia tidak puas hanya menonton, melainkan juga mengikuti pelatihan cara memainkan wayang kulit purwa dan menabuh gamelan (Foto ISTIMEWA)

Dasamuka Lena menceritakan tentang perkelahian antara raja Alengka Prabu Dasamuka dengan raja Ayodya Prabu Rama Wijaya yang mewakili dua karakter, baik dan jahat. Lebih lanjut jalan cerita menggambarkan Prabu Rama Wijaya yang mewakili kebaikan berusaha merebut kembali Dewi Shinta, istrinya yang telah diculik Prabu Dasamuka.

“Masyarakat Moskow sangat antusias dan attentive, baik di kuliah, master class, maupun pada pertunjukan-pertunjukan saya selama festival berlangsung. ‘Bravo, Bravo’, itu selalu saya dengar dari mereka. Saya sangat terharu. Terima kasih, Moskow”, ujar dalang Ki Dr. Eddy Pursubaryanto.

Festival Indonesia Moskow 2017 selama tiga hari digelar selalu dipadati penonton dari warga Rusia, baik yang digelar di main stage maupun di tenda terpisah (Foto ISTIMEWA)
Festival Indonesia Moskow 2017 selama tiga hari digelar selalu dipadati penonton dari warga Rusia, baik yang digelar di main stage maupun di tenda terpisah (Foto ISTIMEWA)

M Wahid Supriyadi menambahkan, Festival Indonesia Moskow 2017 merupakan festival yang kedua kali telah diselenggarakan oleh KBRI Moskow bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata RI, Kementerian Perdagangan RI, Kementerian/Lembaga terkait, sejumlah Pemerintah Provinsi dan Pemerinth Kota/Kabupaten RI, pelaku bisnis, serta berbagai pihak pendukung di Indonesia maupun di Rusia. Keseluruhan rangkaian FIM 2017 menampilkan panggung seni dan budaya, pameran produk, wayang, dan gamelan show, pemutaran film Indonesia, kuliah umum, fashion show oleh para desainer ternama Indonesia serta master class tari dan master class alat musik tradisional Indonesia.

Kesuksesan Festival Indonesia pertama tahun 2016 dan diikuti dengan kesuksesan Festival Indonesia kedua tahun 2017 diharapakan dapat semakin memperkuat dan mempererat kerjasama bilateral Indonesia-Rusia, dalam berbagai bidang. [rts]