Mahasiswa UGM Pelopori Olah Pangan di Desa Pitu, Ngawi

354

NGAWI, KAGAMA – Masyarakat Dusun Gunung Rambut di Desa Pitu Kabupaten Ngawi Provinsi Jawa Timur mengalami banyak kendala dalam mengembangkan aktivitas perekonomian. Mereka hanya mengandalkan penjualan hasl pertanian agar terpenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka belum mampu mencoba alternatif lain yang dapat meningkatkan nilai tambah dari komoditas pertanian mereka.

Sementara itu, di wilayah Desa Pitu sendiri memiliki kekayaan alam dan lahan produktif yang melimpah. Desa Pitu juga memiliki potensi yang besar di sektor pertanian. Namun, potensi tersebut belum mampu dikelola secara optimal. Proses penambahan nilai dari hasil pertanian menjadi produk bernilai jual lebih belum diterapkan masyarakat setempat.

Tim Mahasiswa KKN-PPM UGM Unit JTM03 Desa Pitu yang mencermati kondisi tersebut berinisiatif memelopori pelatihan pengolahan pangan kepada masyarakat, khususnya di Dusun Gunung Rambut. Dusun tersebut berlokasi di tengah hutan jati dengan masyarakat yang bermata pencarian petani jagung dan ketela.

“Tempat mukim mereka di wilayah yang cukup terisolasi. Akses jalan kurang memadai. Masyarakat  Gunung Rambut mengalami berbagai kendala dalam mengembangkan aktivitas perekonomian,” ucap Suci, salah satu mahasiswa UGM, Rabu (2/8/2017).

Suci Fauziyah Hilmi (Teknik Industri 2014) dan Aulia Fasya Baehaqi (Teknologi Industri Pertanian 2014) menginisiasi pengolahan ketela dan jagung menjadi panganan ringan yang dapat meningkatkan nilai jual.

Produk hasil olahan pangan warga Dusun Gunung Rambut Desa Pitu, Ngawi, Jawa Timur (Foto ISTIMEWA)
Produk hasil olahan pangan warga Dusun Gunung Rambut Desa Pitu, Ngawi, Jawa Timur (Foto ISTIMEWA)

Tim KKN-PPM UGM Unit JTM03 Desa Pitu bersama Dosen Pembimbing Lapangan, Atus Syahbudin, S.Hut., M.Agr., Ph.D., sukses menghasilkan olahan utama dari komoditas jagung dan ketela, yaitu ceriping (keripik) dan marning. Cara pengolahannya sangat sederhana. Ceriping tela diolah dengan mengambil ketela asli dari lahan tani masyarakat setempat yang masih segar dan berisi padat. Sejak pengambilan bahan baku hingga proses produksi selalu melibatkan warga Gunung Rambut, terutama ibu-ibu PKK yang menjadi target pemberdayaan pengolahan produk ceriping dan marning.

Arif Rohman Mu’tasim, mahasiswa Jurusan Manajemen 2014, telah mengupayakan jalur pemasaran dan percobaan distribusi hasil olahan tersebut agar dapat memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat Gunung Rambut. Mahasiswa memberikan trade mark “Mak Rambe” dan brand tradisional, untuk menunjukkan bahwa produk Ceriping Telo dan Marning Mak Rambe diolah dengan cara alami, berbahan baku langsung dari alam, serta dengan resep asli nenek moyang.

“Selain menawarkan keaslian olahan, Ceriping Telo dan Marning Mak Rambe juga memberikan value added dengan mengangkat kearifan lokal, seperti budaya, kebiasaan, serta kekayaan geografis yang masih segar untuk dinikmati,” katanya.

Sementara itu, menurut Dian Nur Isroin dari Budidaya Pertanian 2014, kemasan produk ceriping dan Mak Rambe menjadi tiga macam, yakni kemasan oleh-oleh, kemasan keluarga, dan kemasan ecer. Varian kemasan yang beragam ditujukan agar semua kalangan konsumen dapat merasakan kerenyahan ceriping telo dan marning Mak Rambe.

Alasan mengapa hal-hal tersebut diangkat adalah karena pemberdayaan masyarakat melalui pengolahan panganan ini tidak hanya untuk menghasilkan produk tertentu, tapi juga untuk mengangkat kualitas hidup masyarakat Gunung Rambut. Selain itu, untuk menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa Desa Pitu, dan Dusun Gunung Rambut memiliki beragam potensi serta kekentalan budaya yang patut untuk ditata dan dikembangkan. [Humas UGM/Catur/rts]