Tim Unit Selam UGM Gelar Ekspedisi Nusantara Bawah Air

501

BULAKSUMUR, KAGAMA – Lautan Indonesia disebut publik internasional sebagai lautan favorit untuk menyelam. Bahkan, publik dunia memosisikan lautan Indonesia berada di jajaran lokasi selam kelas dunia. Namun, minat olahraga menyelam bagi masyarakat kita masih kecil. Masyarakat memandang olahraga menyelam sebagai olahraga eksklusif dan menelan biaya besar.

Menyikapi kondisi tersebut, kelompok Selam Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan kegiatan ekspedisi bawah air, bertajuk Ekspedisi Nusantara Bawah Air di Bali. Melalui ekspedisi ini Unit Selam UGM dapat mengenal lebih dekat Indonesia dengan melihat langsung keindahan bawah laut yang mayoritas hanya diketahui para mahasiswa melalui media sosial.

Ekspedisi ini berlangsung sejak 22 April 2017 hingga September 2017 dengan destinasi penyelaman selanjutnya di wilayah Taman Nasional Bali Barat, Tulamben, dan Padangbai. Terdapat lima titik penyelaman di Nusa Lembongan yang dieksplorasi oleh tim ekspedisi, yaitu SD, Manta Bay, Mangrove, Toyapakeh, dan Buyuk.

Penyelaman diawali pada titik di dekat sebuah Sekolah Dasar (SD) di Pulau Nusa Penida. Di sini, tim harus melakukan penyelaman drifting atau menyelam mengikuti arus. Begitu pula di titik Mangrove dan Toyapakeh pada penyelaman berikutnya.

Panorama di bawah laut di Pulau Dewata, Bali nan esksotik (Foto ISTIMEWA)
Panorama di bawah laut di Pulau Dewata, Bali nan eksotik (Foto ISTIMEWA)

Meski arus terbilang sedang, namun anggota tim yang mayoritas baru pertama kali mengalami penyelaman drifting mengaku cukup menikmati walau sempat khawatir sebelumnya.

Tim Unit Selam UGM beranggotakan lima orang. Mereka menjelajah dan  mendokumentasikan beragam kondisi dan realita bawah air yang ditemukan selama tiga hari, 22, 23, dan 24 April 2017 di Nusa Lembongan.

“Pengalaman drift dive yang luar biasa! Rasanya seperti terbang mengikuti ke mana arus akan membawa saya di bawah lautan sana,” ungkap Rimba, salah satu anggota tim ekspedisi melalui rilis kepada wartawan.

Sedikit berbeda pada titik penyelaman Buyuk dan Manta Bay. Penyelaman di titik Buyuk cukup tenang karena tidak ada arus. Terdapat beberapa biota laut yang ditemukan seperti angle fish, scorpion fish, box fish, ikan badut atau clown fish, siput nudibranch, stone fish, hingga penyu besar. Karang keras dan lunak yang tumbuh di tempat tersebut terlihat mewarnai sepanjang lereng.

Manta Bay sendiri telah menjadi salah satu titik favorit para pengunjung yang akan menyelam atau sekedar snorkeling di Nusa Lembongan. Karena, wilayah itu merupakan habitat dari ikan pari manta. Kesempatan bertemu pari manta hampir 70%.  “Sayangnya, tim hanya bertemu satu ekor ikan pari manta saat menjelajahi titik ini,” ucapnya.

Tim Unit Selam UGM  menjelajah dan  mendokumentasikan beragam kondisi dan realita bawah air (Foto ISTIMEWA)
Tim Unit Selam UGM menjelajah dan mendokumentasikan beragam kondisi dan realita bawah air (Foto ISTIMEWA)

Selain melakukan eksplorasi kondisi bawah laut Nusa Lembongan, tim ekspedisi menemukan fakta yang cukup menarik di kawasan tersebut. Dari sekitar lebih dari empat ribu jiwa penduduk di Nusa Lembongan, tim mengaku lebih mudah menjumpai warga negara asing daripada warga negara lokal. Terlebih orang-orang yang bergerak di sektor pariwisata.

Big Fish Diving adalah salah satu dari sekian banyak dive operator yang berdiri di Nusa Lembongan. Mulai dari manajer hingga pemandu, mayoritas didominasi oleh warga negara asing. Terhitung hanya ada dua pemandu lokal di dive operator itu dan sisanya warga negara asing. Pun, menurut pengakuan salah satu pemandu Big Fish, dalam satu tahun rata-rata mereka hanya menerima lima sampai tujuh grup wisatawan domestik. Selebihnya, hampir setiap hari mereka menerima tamu dari wisatawan mancanegara.

“Jarang ada tamu dari Indonesia. Kalaupun ada, mereka biasanya nggak diving”, ujar Bobby, salah satu pemandu Big Fish Diving berasal dari Kota Medan. [Humas UGM/Ika/rts]