Kala itu yang menuntut mahasiswa Sastra pulang sebelum jam 22.00 seperti kebijakan saat ini memang belum ada. Oleh karenanya, mereka bisa dengan mudahnya melaksankan berbagai kegiatan di kampus.

Pada waktu itu,  menurut liputan dari Bulletin Balairung edisi PUKM September 1999,  kegiatan yang jamak dilakukan oleh komunitas Sastro Ndaloe ialah kegiatan kreatif yang tidak diakomodasi oleh BSO atau jurusan di Fakultas Sastra.

Ilustrasi; Suasana dan Gedung Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM tahun 1974.(Foto: Dok. Arsip UGM)
Ilustrasi; Suasana dan Gedung Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM tahun 1974.(Foto: Dok. Arsip UGM)

Dalam Bulletin tersebut dijelaskan bahwa aktifitas yang dilakukan oleh komunitas Sastro Ndaloe  ialah latihan Capoeira atau seni bela diri Brazil. Saat itu latihan dipandu oleh instruktur bule.

Selain latihan Capoeira, kegiatan lain yang meraka lakukan diantaranya adalah menggamabar bersama. Kegiatan ini dinamai Sastro Nggambar. Menariknya, mereka tidak sekadar melakukan kegiatan demi kesenangan diri sendiri. Hal itu bisa dibuktikan dari adanya pameran produk Sastro Nggambar yang dibuka untuk masyarakat umum.[Venda]