BULAKSUMUR, KAGAMA – Negara Indonesia menjadi rujukan berbagai negara dalam hal kemampuannya mengelola keberagaman. Salah satu keberhasilan yaitu tercapainya persatuan dan kesatuan di Indonesia karena ideologi pemersatu, yaitu Pancasila.

“Bagaimana rukunnya kita, bersatunya kita, kalau ada gesekan kecil-kecil segera dirukunkan. Wajar karena kita besar, tapi segera rukunkan kembali. Kampus UGM  menjadi bagian penting bagi perjuangan Indonesia. Kita berkumpul di sini untuk komitmen yang sama. Untuk memperkuat Pancasila sebagai jiwa bangsa kita, jiwa raga kita, dan cara hidup berbangsa dan bernegara,” ucap Presiden Ir. Joko Widodo di hadapan tamu undangan dan peserta Kongres Pancasila IX.

Dalam amanat yang disampaikan Presiden Ir. Joko Widodo pada pembukaan Kongres Pancasila IX, Sabtu (22/7/2017) pagi di Halaman Balairung UGM, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta, Jokowi Widodo menegaskan, Pancasila bukan hanya menjadi kebanggaan Indonesia, melainkan juga negara-negara lain yang mulai memerhatikan  Indonesia.

“Sekali lagi kita harus belajar pengalaman-pengalaman buruk negara lain yang dihantui konflik-konflik sosial, perang antarnegara. Ini harus menjadi catatan. Alhamdulillah,  kita selalu terhindar dari masalah tersebut. Kita  bisa hidup rukun, gotong-royong, dan nanti Indonesia menjadi rujukan masyarakat dunia untuk kemajemukan,” ucap Presiden yang juga alumnus Fakultas Kehutanan UGM.

Diilustrasikan Presiden Jokowi, dari sejumlah kunjungan ke berbagai negara, Presiden menyaksikan terjadinya perubahan dunia yang sangat cepat. Mulai dari alat dan tenbologi komunikasi berikut aplikasi yang semakin lengkap dan beragam. Hal itu juga mengubah oarientasi pasar produk teknologi. Sehingga lanskap ekonomi pun berubah.

Keadaan tersebut, menurut Joko Widodo memerlukan kesiapan mental generasi muda. Presiden menginginkan agar seluruh civitas akademika perguruan tinggi di Indonesia, mulai dari rektor, guru besar, dosen-dosen menyadari keadaan tersebut.

“Jangan sampai  menggerus karakter bangsa kita. Kita harus siapkan sekarang. Dengan membekali anak-anak kita dengan nilai-nilai Pancasila, sangat penting sekali untuk memperkuat karakter bngsa. Kita  bersyukur sudah punya Pancasila, dan bersyukur komitmen kita sudah bulat. Kita harua berani bersuara lantang, saya Indonesia, saya Pancasila. Saya anak muda Indonesia, saya Pancasila, saya Mahasiswa, saya Pancasila,” tandas Presiden.

Pada kesempatan itu Rektor UGM Prof. Ir. Panut Mulyono, M. Eng.,, D. Eng. mengungkapkan, sejak kali pertama Kongres Pancasila dilaksanakan, baru kali ini kongres dihadiri Presiden RI. Sehingga, kehadiran Presiden Joko WIdodo semakin memberi semangat berkobarnya semangat Pancasila dalam jiwa masyarakat.

“Pak Presiden, jiwa Pancasila tak pernah surut dalam jiwa kita semua. Kecintaan kita semakin terbuka. Ini saya rasakan sejak kongres kali ini. Yang hadir di acara ini tak hanya UGM, juga peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia,” ungkap Panut.

Lebih lanjut Prof Panut mengajak segala elemen bangsa untuk mendalami dan menghayati nilai-nilai luhur Pancasila. Mengingat, Pancasila adalah leading ideology yang dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat. “Kami sadar dinamika dan tantangan global. Kami mengatasi dan mengantisipasinya dengan baik dan efektif,” tukasnya.

Turut hadir bersama  Presiden Joko Widodo, antara lain Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prof. Dr. Pratikno, M. Soc. Sc. beserta istri, Dra. Ec. Siti Faridah serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  (Mendikbud) Prof. Dr. Muhajir Effendy, MAP.

Kongres Pancasila diselenggarakan satu rangkaian dengan Kursus Pancasila yang telah dilaksanakan, Jumat (21/7/2017) dilengkapi pelajar sejumlah 1.500 anak yang memersembahkan Aubade Pancasila. Total jumlah peserta Kongres Pancasila IX mencapai 3.500 orang. Turut menyemarakkan Aubade Pancasila adalah Paduan Suara Bahana Patria Yogyakarta dengan memainkan piano hadiah Presiden Pertama RI, Ir. Sukarno pada 1964.  [TH]