Pembangunan SDM Perlu Diwujudkan Lewat Guru dan Pendidikan yang Inovatif

26
Rektor Universitas Udayana Prof.Dr.dr.Raka Sudewi, SpS (K) menyatakan, mengacu pada data survei Program for International Student Assesment terbaru, literasi baca, kemampuan matematika dan sains anak 15 tahun masih rendah dibandingkan negara lain. Foto : Maulana/KAGAMA
Rektor Universitas Udayana Prof.Dr.dr.Raka Sudewi, SpS (K) menyatakan, mengacu pada data survei Program for International Student Assesment terbaru, literasi baca, kemampuan matematika dan sains anak 15 tahun masih rendah dibandingkan negara lain. Foto : Maulana/KAGAMA

KAGAMA.CO, DENPASAR – Dari data Global Innovation Index (GII) tahun 2019, Indonesia hanya memperoleh skor 29,72 (skala 1-100) sehingga untuk mencapai nilai yang lebih baik di GII, peran pendidikan punya kunci yang sangat strategis.

Hal ini, dsampaikan Rektor Universitas Udayana, Prof.Dr.dr.Raka Sudewi, SpS (K), dalam Seminar Pra Munas XIII Kagama, yang mengusung tema Kesiapan SDM Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0 Menuju Indonesia Maju, dengan sub topik Road Map Pembangunan SDM Indonesia, Kamis (14/11/2019), di Hotel Grand Inna Bali Beach, Denpasar, Bali.

Dalam peran pendidikan itu, Raka menekankan adanya peran guru.

Dikaitkan dengan nilai-nilai agama Hindu, Raka mencontohkan Catur Guru, yang terdiri dari Guru Tuhan Yang Maha Esa, Guru orangtua, Guru di sekolah, dan Guru pemerintah.

Menurutnya, keempat Guru ini harus dihormati dan turut memajukan kualitas pendidikan bangsa.

Mengacu pada data survei Program for International Student Assesment terbaru, literasi baca, kemampuan matematika dan sains anak 15 tahun masih rendah dibandingkan negara lain.

Kemudian dari data Taksiran Kompetensi Siswa Indonesia tahun 2016, pencapaian kompetensi siswa yang masih kurang di bidang matematika yakni, 77,13 persen, membaca 46,83 persen, dan sains 73,61 persen.

Ada pun masalah kesehatan yang tercantum pada RPJMD tahun 2019-2024, seperti angka kematian ibu dan bayi masih tinggi, pelayanan kesehatan reproduksi belum optimal, penyakit menular, dan masih banyak lagi.

Baca juga: Ganjar Dikenal Sosok yang ‘Nguwongke’ dan Peduli Komunitas Akar Rumput

Di samping itu impor bahan baku obat dan alat kesehatan masih tinggi.

“Jadi kita masih punya waktu 25 tahun lagi untuk menyiapkan generasi kita. Setiap lima tahun harus melakukan penguatan kapasitas,” jelas Raka.

Dia kemudian memaparkan tahap penguatan kapasitas yang harus ditempuh sampai tahun 2045 yaitu, penguatan kapasitas jati diri bangsa, peran Catur Guru, dan pendidikan untuk pengembangan inovasi.

“Sebetulnya sudah dilakukan, tetapi masih butuh penyempurnaan melalui penguatan, karena pengembangan SDM yang dilakukan masih putus-putus,” ujarnya.