Kata Diaspora KAGAMA: Masyarakat AS Hampir Tak Mengenal New Normal

138

Baca juga: Dokter THT RSA UGM Bantah Masker Bisa Sebabkan Keracunan Karbondioksida dan Kekurangan Oksigen

“Selain kesehatan masyarakat yang terancam, jumlah pengangguran di AS meningkat, sehingga penerima unemployement benefit juga bertambah. Ada juga bantuan dari pemerintah pusat maupun pemerintah federal,” jelasnya.

Di saat yang sama, Popi menyampaikan ada kritik dari masyarakat terkait lambatnya pemerintah federal dalam menangani penyebaran Covid-19 di negara-negara bagian.

Menurut data yang dipaparkan Popi, menunjukkan ada negara bagian yang bisa dibilang terlambat memberlakukan kebijakan stay at home dan phyisical distancing.

Kasus pertama ditemukan pada bulan Januari, tetapi salah satu negara bagian baru menerapkan kebijakan pencegahan Covid-19 di bulan April.

“Himbauan-himbauan bagi masyarakat untuk mengikuti protokol kesehatan dalam beraktivitas, hanya sekadar lewat poster-poster yang terpasang di ruang publik,” ungkap Popi.

Baca juga: Istimewa, Ganjar Pranowo Lantik Pengurus KAGAMA Filsafat di Dunia Maya

Alumnus Sastra Inggris UGM angkatan 2001 ini menuturkan, ada kaitan erat antara pandemi, ekonomi, dan suhu politik di AS.

Isu politik terutama terkait dengan pemilihan presiden AS tahun 2020, serta isu ekonomi terkait perang dagang AS-Tiongkok.

“Nah, kita bisa lihat mana yang akan dipilih atau diprioritaskan dulu oleh AS. Ekonomi, kesehatan, atau politiknya?,” terangnya.

Setelah melalui dinamika selama pandemi Covid-19, Popi mengamati pemerintah AS selama ini cenderung fokus mengatasi masalah ekonomi.

Salah satunya dengan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya untuk masyarakat. (Kn/-Th)

Baca juga: Para Peserta Reuni Dar(l)ing Filsafat UGM ‘Cogito Ergo Zoom’ Kenakan Busana Daerah