Integrated Urban Farming, Tren Baru Pertanian di Lahan Sempit untuk Penuhi Kebutuhan Bahan Pangan Rumah Tangga

107
Ketika kamu berada di rumah saja, ada kegiatan lain yang bisa dilakukan selain menyelesaikan pekerjaan pokok. Foto: UGM
Ketika kamu berada di rumah saja, ada kegiatan lain yang bisa dilakukan selain menyelesaikan pekerjaan pokok. Foto: UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Menjalani work from home di tengah pandemi Covid-19 terkadang menjadi hal yang membosankan bagi sebagian orang.

Namun, ketika kamu berada di rumah saja, ada kegiatan lain yang bisa dilakukan selain menyelesaikan pekerjaan pokok.

Salah satunya adalah beternak dan bertani dengan menerapkan integrated urban farming system.

Tren pertanian ini kini tengah marak dikembangkan sebagai solusi untuk beternak dan bertani di lahan yang sempit.

Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAN. Eng., berujar bahwa integrated urban farming system merupakan penyatuan pertanian dan peternakan di lahan sempit.

Baca juga: KAGAMA Riau Sumbangkan APD dan Tambahan Nutrisi untuk Tenaga Medis

Sistem ini acap kali ditemukan di perkotaan, sehingga hasilnya dapat dioptimalkan sebagai produksi bahan pangan rumah tangga.

“Di masa mendatang, dengan bertambahnya jumlah penduduk dan berkurangnya produk hasil pangan, integrated urban farming system dapat menjadi solusi pemenuhan kebutuhan pangan rumah tangga,” tutur Prof. Ali Agus, belum lama ini.

“Hasil tani dan ternak juga dapat dijual sehingga dapat menjadi tambahan pendapatan rumah tangga,” imbuhnya.

Guru besar Fakultas Peternakan UGM tersebut menyatakan bahwa jenis tanaman dan ternak yang bisa dipilih adalah sayuran dan ternak kecil.

Ternak kecil yang dimaksud adalah puyuh, kelinci, dan ikan.

Baca juga: Aksi Nyata KAGAMA Bontang dalam Menekan Penyebaran Wabah Virus Corona