KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Buku Hate Spin karya Cherian George, seorang profesor jurnalisme dari Hong Kong Baptist University, telah diterjemahkan (diindonesiakan) oleh Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Yayasan Wakaf Paramadina dan Institute of International Studies (IIS) Universitas Gadjah Mada.

Versi terjemahannya diberi judul “Pelintiran Kebencian: Rekayasa Ketersinggungan Agama dan Ancamannya bagi Demokrasi”. Buku tersebut akan didiskusikan dan diluncurkan pada Kamis (21/12/2017) pukul 13.00 – 15.00 WIB di Ruang Auditorium Lantai 4 FISIPOL UGM.

Narasumber yang siap membedah buku tersebut, antara lain Zainal Abidin Bagir (Ketua Program Studi Agama dan Lintas-Budaya (CRCS) UGM), Widiarsi Agustina (Redaktur Pelaksana Tempo), dan Irsyad Rafsadie (Peneliti PUSAD Paramadina). Acara ini mengundang berbagai kelompok lintas-iman, pegiat media massa, LSM, serta institusi pendidikan di Yogyakarta dan sekitarnya.

Dalam rilisnya, Irsyad Rafsadie dari PUSAD Paramadina selaku anggota tim penyunting buku menyampaikan, melalui buku tersebut, George, selaku akademikus  ilmu komunikasi mengajukan istilah baru. Hate spin atau “pelintiran kebencian” dipilih untuk menjelaskan sebuah strategi yang mengombinasikan ujaran kebencian (hasutan melalui tindak menyetankan kelompok lain) dengan rekayasa ketersinggungan (menampilkan luapan amarah yang dibuat-buat).

Penyakit intoleransi, merasa tersinggung, dan kemarahan komunal sebagian besarnya melibatkan kampanye terorganisasi dari para oportunis politik, dengan tujuan memobilisasi pendukung dan menyingkirkan lawan. Kampanye ini direncanakan matang-matang oleh jaringan sayap-kanan yang memanfaatkan ujaran kebencian dan ketersinggungan agama sebagai instrumen identitas politik.

“Buku ini dilatari oleh kegelisahan Cherian George melihat naiknya ancaman politik pertikaian agama yang dia sebut “pelintiran kebencian” terhadap demokrasi. Demokrasi terancam ketika kelompok rentan terus mengalami intimidasi/diskriminasi dan suara-suara yang dianggap melukai perasaan kelompok dominan semakin dibungkam,” papar Irsyad Rafsadie.

Penyelenggara diskusi Institute of International Studies (IIS) UGM menyediakan 50 buku yang akan diebrikan gratis untuk 50 peserta pertama. Untuk kehadiran sebagai peserta disilakan menghubungi Adya Nisita (0812 2800 1236) / publication.iis@ugm.ac.id. [rts]