G2R Tetrapreneur Gandeng 20 Mitra Ciptakan Pasar Non-Kompetisi untuk Produk-Produk Desa

598
G2R Tetrapreneur ini didesain oleh Bappeda DIY bersama Rika Fatimah P.L., S.T, M.Sc., Ph.D, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Foto: Kinanthi
G2R Tetrapreneur ini didesain oleh Bappeda DIY bersama Rika Fatimah P.L., S.T, M.Sc., Ph.D, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Foto: Kinanthi

KAGAMA.CO, YOGYAKARTA – Global Gotong Royong (G2R), Inovasi Gerakan Desa dengan menggunakan model Tetrapreneur, bersama Biro Bina Pemberdayaan Masyarakat Setda DIY, menggelar ‘Seremonial Kemitraan Global G2R Tetrapreneur: Penciptaan Pasar Non-Kompetisi untuk Produk-produk  Desa’ di Gedung Unit VIII, Kepatihan Danurejan pada Rabu (31/07/2019).

Acara ini diselenggarakan demi keberlanjutan kerja sama antara G2R Tetrapreneur dengan beberapa mitra yang telah hadir.

Di samping itu juga sebagai bukti nyata bahwa G2R Tetrapreneur sudah didukung oleh banyak pihak.

Dr. R.A. Arida Oetami, M.Kes, Plh. Kepala Biro Bina Masyarakat (Bermas) mengatakan G2R Tetrapreneur ini didesain oleh Bappeda DIY bersama Rika Fatimah P.L., S.T, M.Sc., Ph.D, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM.

Dari desain tersebut kemudian dihasilkan dua tempat yang akan dijadikan sebagai pilot dari gerakan ini, yaitu Desa Wukirsari dan Desa Girirejo.

Rika Fatimah P.L., S.T, M.Sc., Ph.D, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM
Rika Fatimah P.L., S.T, M.Sc., Ph.D, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM

Arida menjelaskan, saat ini G2R Tetrapreneur dan kedua desa tersebut sedang bergerak bersama dengan Bermas.

“Waktu itu, kami sudah menyelesaikan Tetra 1 yaitu rantai. Lebih jelasnya mengenai pengembangan produk unggulan dari masing-masing desa. Pemerintah sepenuhnya mendukung G2R Tetrapreneur sebagai model kewirausahaan masyarakat desa, yang mengangkat kearifan lokal,” jelas Arida. Pihaknya berupaya bisa menyelesaikan hingga Tetra 4.

Tingkatkan Potensi Desa untuk Kesejahteraan Bersama

Singkat informasi, G2R Tetraprneur berbasis empat pilar,yakni Tetra 1 (rantai), Tetra 2 (pasar), Tetra 3 (kualitas), dan Tetra 4 (merek wirausaha).

Saat ini, sudah sampai pada pilar Tetra 2, yaitu melaksanakan beberapa kali Focus Group Discussion (FGD) dan dua liputan media lokal.

Ada pun berbagai program yang telah dilaksanakan yakni beberapa kegiatan pelatihan baik softskill maupun hardskill bersama BBLM, koordinasi desain kemasandi Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) bersama Yayasan S2C, mengikuti kegiatan ekspor yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten dan Kementerian Desa, dan masih banyak lagi.

“G2R Tetrapreneur bukan sekadar konsep, tetapi juga meningkatkan potensi desa dan human capital yang dapat secara mandiri dan berwibawa untuk kesejahteraan bersama,” jelasnya.

Beberapa hari lalu, tim pendamping dari UGM telah membentuk sistem e-G2R Tetraprenuer, yaitu gerakan menuju 1000 subscriber dan follower.

Seremonial Kemitraan Global G2R Tetrapreneur: Penciptaan Pasar Non-Kompetisi untuk Produk-produk  Desa' di Gedung Unit VIII, Kepatihan Danurejan. Foto: Kinanthi
Seremonial Kemitraan Global G2R Tetrapreneur: Penciptaan Pasar Non-Kompetisi untuk Produk-produk  Desa’ di Gedung Unit VIII, Kepatihan Danurejan. Foto: Kinanthi

Ini merupakan output dari piler Terta 2, bahwa G2R Tetraprenuer bukan hanya gerakan sosial budaya, tetapi juga media.

Rika sebagai konseptor dari G2R Tetrapreneur memberikan pemahaman kepada mitra.

Ia menyampaikan budaya gotong royong merupakan salah satu kearifan lokal yang terlupa. Rida Allah semakin dekat bagi mereka yang bergerak bersama-sama.

Gerakan G2R Tetraprenuer ini berawal dari dana desa. Awalnya dana desa digelontorkan dengan nominal yang sama ke semua desa.

Hal ini bisa jadi bermanfaat atau menimbulkan persoalan baru, karena kondisi setiap desa berbeda.

“Kita bertanya lagi ini alokasi atau aspirasi? G2R di sini berusaha memaksimalkan apa yang sudah dilakukan pemerintah, dengan menargetkan ekonomi yang mandiri dan berwibawa. Jadi kita semua menolong tetapi tetap berprestasi juga, sehingga arah dana desa seharusnya lebih ke aspirasi,” ungkap Rika.

Ia menambahkan, GR Tetrapreneur sudah melakukan berbagai pencapaian, di antaranya menemukan desa pelopor, mendapat legitimasi dari Gubernur DIY, ekspose dan peluncuran produk, beberapa produk BUMDes telah lolos kurasi di Bandara YIA, serta menjadi program utama yang didanai oleh Dana Istimewa (DANAIS).

Ada pun perjalanan G2R Tetrapreneur, sejak tahun 2018 hingga 2019 sudah ada tujuh desa yang menjadi pilot. Kemudian pada tahun 2020 menargetkan sampai 20 desa.

Rika memaparkan rumusan baru tentang model nasional pembangunan ekonomi perbatasan 100 lebih desa di wilayah perbatasan, yaitu G2R Tetraprenur rumput laut Nunukan, G2R Tetrapreneur The Amazing Borders of Nunukan, dan Kelembagaan G2R Tetrapreneur Nunukan.

Industri Mendidik Pasar

Terkait kemitraan, Rika menjelaskan dalam penciptaan pasar non kompetisi ini yang paling penting adalah bagaimana industri mendidik pasar.

Ada tiga model kemitraan, yakni penciptaan pasar non-kompetisi, komitmen dalam hal finansial, dan dukungan lain seperti memasukkan produk.

Asisten Pemberdayaan Sumber Daya Masyarakat Setda DIY, Ir. Arofah Nur Indriyani, menyampaikan dukungannya terhadap pengembangan program dari G2R Tetrapreneur tersebut.

Ia berharap G2R Tetrapreneur bisa mendapat posisi yang baik dalam hal kelembagaan. Misalnya melekat dalam sebuah instansi, sehingga mempunyai sekertariat.

Acara diakhiri dengan penandatanganan MoU antara G2R Tetrapreneur, Desa Wukirsari, Desa Girirejo, dan 20 mitra yang hadir secara bersama-sama. Rika berharap, para mitra ini bisa menjadi duta.

“Jadi, unit-unit G2R Terapreneur jika bermitra dengan dengan perusahaan atau instansi yang punya branding pasti akan didengar oleh pasar,” ujar Rika menyimpulkan. (Kinanthi)