MOSKOW, Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus Wahid Supriyadi awal Desember lalu berada di kota Rostov on Don (berjarak 1079 km selatan Moskow) guna menjajaki peningkatan kerjasama Indonesia – Rusia. Dalam pertemuan dengan Gubernur Provinsi Rostov, Vasiliy Golubev, Dubes Wahid menyatakan bahwa Indonesia tertarik untuk membeli produk pesawat amfibi BE-200 dan helikopter MI-26 yang dirakit di provinsi Rostov tersebut.

(Pesawat amfibi) BE-200 telah terbukti ampuh menangani kebakaran hutan maupun aktivitas SAR di Indonesia. Sedangkan helikopter MI-26 baik versi sipil atau militer yg mampu mengangkut sekitar 80 penumpang atau kargo hingga 20 ton,  sangat penting bagi mobilitas pasukan maupun sebagai alat angkut di wilayah terpencil di Indonesia,” ujar Dubes Wahid.

be200

Dubes Wahid juga menyatakan ketertarikan Indonesia membeli gandum yang merupakan salah satu primadona ekspor provinsi Rostov.

“Setiap tahunnya Indonesia membutuhkan sekitar 7 juta ton tepung terigu mengingat masyarakatnya adalah konsumen kedua terbesar mi instan. Mulai tahun ini, Indonesia juga mulai mengimpor tepung terigu dari Rusia,” ujar Dubes penggemar bulutangkis ini.

Sebaliknya Dubes Wahid menawarkan kepada pemerintah dan pengusaha Rostov untuk berpartisipasi dalam pembangunan proyek-proyek infrastruktur di Indonesia sebagaimana telah dilakukan beberapa investor Rusia lain. Juga ditawarkan berbagai produk ekspor utama Indonesia seperti komoditas CPO dan turunannya, ikan laut, teh, kopi, karet, tekstil, buah tropis dan sebagainya.

Gubernur Rostov Vasily Golubev menyatakan sepakat untuk meningkatkan kerjasama ekonomi kedua negara disamping menggiatkan kerjasama di bidang lain termasuk pendidikan, ilmu pengetahuan, budaya dan pariwisata.

Di akhir pertemuan, Dubes Wahid mengundang Gubernur Rostov on Don, KADIN dan pengusaha Rostov untuk berpartisipasi dalam kegiatan temu bisnis pada acara Festival Indonesia ke-2 di Moskow, pada 4 – 6 Agustus 2017.

Sesuai statistik setempat, neraca perdagangan provinsi Rostov dengan Indonesia dalam 9 bulan tahun 2016 mencapai US$ 4,5 juta, meliputi ekspor US$ 2,29 juta dan impor US$ 2,23 juta. Dibanding periode yang sama tahun 2015, nilai neraca ini meningkat 5%.

Selama di kota Rostov on Don, Dubes Wahid Supriyadi juga bertemu Ketua Kamar Dagang dan Industri Provinsi Rostov, Nikolai Prysyazhnyuk yang antara lain membahas kemungkinan partisipasi KADIN Rostov dalam pameran Trade Export Indonesia di Jakarta tahun 2017 dan temu bisnis pada pameran Festival Indonesia ke-2 di Moskow awal Agustus 2017.

Selain itu Dubes Wahid secara terpisah juga bertemu pimpinan 3 perguruan tinggi di Rostov, yakni Wakil Rektor Southern Federal University (YUFU), Rektor Don State Technical University (DGTU) dan Rektor Rostov State Transportation University (RGUPS) dalam rangka membahas peluang kerjasama pendidikan dan juga menengok mahasiswa Indonesia yang belajar di sana (terdapat 6 mahasiswa Indonesia di YUFU, 1 di DGTU, dan 19 di RGUPS mempelajari bidang perkeretaapian).  

Sebelumnya pada 27-29 November, Dubes Wahid Supriyadi mengunjungi kota bersejarah Yekaterinburg di provinsi Sverdlovsk yang berjarak 1788 km timur Moskow. Di kota ini penguasa terakhir kerajaan Rusia, Tsar Nikolas II dan keluarganya dibunuh secara keji di tengah terjadinya Revolusi Rusia tahun 1917. Pada tahun 2003 di lokasi Tsar dibunuh, diresmikan gereja Kristen orthodox “Church on Blood in Honour of All Saints Resplendent in the Russian Land” untuk mengenang peristiwa tragis tersebut.

Selama di kota Yekaterinburg, Dubes Wahid diterima Wakil Gubernur Provinsi Sverdlovsk, Aleksey Orlov, dan membahas berbagai peluang kerjasama bilateral di bidang ekonomi, perdagangan industri dan pariwisata.

rostov-dubes-media

Masih banyak potensi kerjasama yang dapat ditingkatkan. Indonesia misalnya berminat pada teknologi peralatan minyak dan gas yang diproduksi Rusia, mesin industri, maupun rel kereta api,” ujar Dubes Wahid.

Dubes Wahid juga menyinggung produk sepeda motor merek “Ural” buatan Rusia yang belum lama ini masuk pasaran Indonesia dan memperoleh sambutan cukup baik di tanah air.

“(Sepeda motor Ural) ini awalnya hanya untuk contoh pameran saja, namun karena peminatnya cukup besar di Indonesia maka distributornya merencanakan mengimpor secara kontinyu dari Rusia,” ujar Dubes Wahid.

Dubes Wahid sebaliknya menghimbau agar Rusia juga meningkatkan impornya dari Indonesia berupa CPO dan turunannya, ikan laut, kopi, teh,  produk teksil, dan peralatan elektronik.

Terkait kerjasama pariwisata, Dubes Wahid menilai perlunya dilakukan promosi lebih intensif mengingat angka kunjungan warga kedua negara cenderung meningkat dan dalam rangka mengantisipasi direct flight Ural Airlines ke Indonesia dan Garuda Indonesia ke Rusia mulai medio 2017. Untuk maksud tersebut, Dubes Wahid mengundang pejabat pemerintah dan pengusaha provinsi Sverdlovsk berpartisipasi dalam forum bisnis dan mengisi acara seni budaya dalam Festival Indonesia ke-2 di Moskow tanggal 4 – 6 Agustus 2017.

Wakil Gubernur Aleksey Orlov menyatakan dukungan dan kesiapan provinsi Sverdlovsk untuk menjalin kerjasama lebih erat dengan Indonesia khususnya dalam memasok komoditas dan produk yang dibutuhkan Indonesia. Selain itu Aleksey Orlov juga menawarkan fasilitas khusus bagi pengusaha Indonesia yang berkeinginan berusaha di provinsi Sverdlovsk dan juga mengundang pengusaha Indonesia berpartisipasi dalam pameran pariwisata internasional Letto 2017 / Bolshoy Ural dan pameran industri Innoprom di kota Yekaterinburg pada tahun 2017.

Sesuai statistik provinsi Sverdlovsk, neraca perdagangan Indonesia dengan Sverdlovsk pada tahun 2015 berjumlah US$ 49 juta atau naik 5 kali lipat dibanding tahun 2011. Ekspor Sverdlovsk mencapai US$ 43 juta berupa metal dan produk mineral. Sedangkan impor dari Indonesia berupa produk pertanian.

Selama di kota Yekaterinburg, Dubes Wahid juga bertemu pimpinan Ural Federal University (URFU) dan memberikan kuliah umum di hadapan para mahasiswa URFU. Dalam kuliah umum tersebut Dubes Wahid menjelaskan tentang sejarah hubungan kedua negara, perkembangan ekonomi di Indonesia saat ini, upaya pemerintah dalam mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi, serta potensi yang dapat dikembangkan di masa mendatang.

Dubes Wahid juga menawarkan kepada mahasiswa URFU kesempatan belajar seni dan budaya Indonesia di berbagai perguruan tinggi di Indonesia selama 1 tahun melalui beasiswa Darmasiswa.

Di URFU saat ini terdapat 10 mahasiswa Indonesia yang menekuni kajian hubungan internasional, teknik nuklir, IT, nanoteknologi, politik, psikologi dan kajian wilayah. URFU juga memiliki kerjasama pendidikan perguruan tinggi di Indonesia, yakni Universitas Bina Nusantara dan Universitas Ubudiyah. (Sumber: KBRI Moskow, media Rostov dan Yekaterinburg)