Dikatakan Wikan, di sesi dialog usai pemutarannya, ia menjelaskan,  Tengkorak dimulai pembuatannya dalam beberapa bulan di awal dengan gaji bulanan Yusron Fuadi sebagai dosen SV UGM yang baru diangkat, senilai kurang dari 200 Dollar US. Selanjutnya, Wikan bergabung dengan Yusron hingga pembuatan film baru selesai dalam waktu hampir empat tahun atau 127 hari syuting.

“Para penonton berdecak kagum mengingat meski tidak dengan modal finansial besar namun kami mampu menghasilkan film berkualitas dan berkelas internasional,” imbuh Wikan.

Dosen SV UGM Anindita Suryarasmi selaku Produser, Animator & Special Effect menambahkan, tim produksi Tengkorak memakai software Blender, sebuah aplikasi free untuk animasi dan modelling dan software Black Magic Eye on Fushion yang juga free“.

Tim Produksi Film Tengkorak dengan latar belakang penonton Cinequest 2018 [Foto ISTIMEWA]
Tim Produksi Film Tengkorak dengan latar belakang penonton Cinequest 2018 [Foto ISTIMEWA]
“Kami baru belajar mengoperasikan software tersebut beberapa minggu sebelum kami harus benar-benar menggarap animasi film ini. Kami belajar from zero untuk mempelajari software-software free namun sangat powerfull tersebut,” tambah Anindita.

Dari tim produksi Tengkorak yang menghadiri Cinequest 2018 antara lain Dosen SV UGM Yusron Fuadi selaku sutradara, penulis cerita, pemain/pemeran, produser, Eka Nusa Pertiwi selaku pemeran utama, Dosen SV UGM Anindita Suryarasmi selaku produser, animator & special effect, dan Dekan SV UGM Wikan Sakarinto, Ph. D. selaku executive  producer dan pemain. [RTS]