Dua universitas yang menjalin kerja sama dengan UGM, dalam hal ini FIB yaitu Moscow State University dan Rossiiskii University Druzhby Narodov (RUDN). 

Wujud kerja sama itu antara lain FIB akan membuka Sastra Rusia di FIB Agustus tahun depan, diawali dengan pembukaan kursus bahasa dulu. Karena membuka prodi sekarang kan tidak gampang,” tutur Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama dan Alumni Dr. Agus Suwignyo, M.A.

Selain membahas kerja sama, dalam kesempatan tersebut Dubes Wahid juga bercerita tentang kondisi terkini pembelajaran bahasa Indonesia di Rusia. Tak hanya itu, Festival Indonesia dan potensi ekonomi dari kedua negara turut dibabar oleh Dubes Wahid.

Dubes Wahid Supriyadi bersama jajaran Dekanat FIB UGM foto bersama di halaman Gudeg Mbarek Bu Hj. Ahmad.(Foto: Taufiq)
Dubes Wahid Supriyadi bersama jajaran Dekanat FIB UGM foto bersama di halaman Gudeg Mbarek Bu Hj. Ahmad.(Foto: Taufiq)

“Sekarang bahasa Indonesia sudah bagus di Kazan. Kemarin yang daftar dua kali lipat di angkatan pertama. Karena hubungannya semakin baik. Job opportunity-nya juga semakin besar, perusahaan Rusia sudah mulai masuk, dan turis Indonesia ke sana juga banyak,” papar alumnus Sastra Inggris UGM ini.

Terkait dengan gelaran Festival Indonesia 2019 di Rusia, Dubes Wahid menjelaskan bahwa akan ada inovasi-inovasi dalam pelaksanaannya. Ia juga menjelaskan bahwa konsep festival dipilih untuk membuat daya tarik kepada warga Rusia.

Pihaknya mengaku bahwa konsep Festival Indonesia terinspirasi dari Holyywood. Selain mempergelarkan kebudayaan, juga terdapat misi ekonomi di dalamnya.

“Kita juga sedang menyiapkan ekspor buah tropis ke sana. Potensi pasarnya besar sekali,” pungkas Dubes.(TH)