KAGAMA.CO, SLEMAN – David Benoit bukan pertama kalinya memeriahkan panggung Economic Jazz UGM. Pada tahun 2012, A Tony Prasetiantono, promotor sekaligus dosen FEB UGM, pernah mengundang Benoit untuk memeriahkan Pesta Jazz UGM.

Sekitar tahun 1990, Tony bertemu Michael Paulo dan David Benoit di Penns Landing, Philadelphia, Amerika Serikat dalam sebuah festival jazz musim panas. Berawal dari ketertarikannya ini, Tony pun mengundang dua musisi jazz kawakan tersebut.

Benoit sendiri mengaku sering datang ke Indonesia. Saat ditanya sudah berapa kali datang ke Indonesia Benoit menjawab dengan cepat bahwa tidak akan pernah cukup. Baginya festival jazz di Indonesia sangatlah menarik.

Pianis dengan karakter smooth jazz ini tidak hanya bermain dari panggung ke panggung. Ia pernah beberapa kali bermain di White House, seperti pada masa kepemimpinan George W. Bush Senior’s. Dengan karakter kepemimpinan yang tegas, Tony melemparkan pertanyaan mengenai bagaimana seorang berwatak keras menikmati sebuah musik yang lembut.

Bagi Benoit musik merupakan salah satu relaksasi. Seperti apa pun karakter seseorang, musik bisa menjadi cara untuk berelaksasi. Terutama musik lembut menjadi pilihan tepat untuk seseorang relaks. “Walaupun orang yang tegas, semua orang perlu musik,” ujar Benoit saat jumpa pers di Bogey’s Teras, Hyatt Regency, Jumat (27/10/2017).

Untuk penampilannya Sabtu (28/10/2017) malam ini di Grha Sabha Pramana UGM, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta, pemain lagu Freedom at Midnight ini disediakan grand piano Steinway & Sons yang disediakan panitia dari Jakarta untuk memaksimalkan penampilannya. [Desti]