Cornelis Lay Berpulang, Celengan Bambu dari Kupang Jadi Kenangan

2802

Baca juga: Strategi Petrus Kasihiw Jadikan Teluk Bintuni Kabupaten Berzona Hijau di Indonesia

Di balik perjalanan Conny menuju Jogja, ada celengan bambu sebagai tiketnya.

Suatu hari, Conny diajak sang ibu ke pasar untuk membelah celengan bambu di lapak tempat ibunya berjualan pisang.

Tak dinyana, sang ibu menabung di salah satu tiang bambu lapak jualannya.

Ibunya setiap hari menyisihkan uang hasil jualan, 50 perak, 100 perak, khusus disiapkan untuk Conny.

Kepedulian ibu yang buta huruf itu akan pendidikan sang anak tak pernah diceritakan kepada Conny.

Baca juga: Faktor Ini Bisa Sebabkan Pandemi Virus Corona di Indonesia Berakhir pada Februari 2021

“Dapat sekitar Rp268 ribu. Untuk perbandingan, tiket pesawat dari NTT ke Surabaya waktu itu Rp68 ribu. Berkat celengan itu, saya bisa berangkat ke Jogja,” tuturnya.

Perjalanan Conny dari Surabaya menuju Jogja disambung dengan armada bus.

Saat transit, dia melihat orang-orang tengah menyantap rawon. Jenis makanan yang baru dia lihat sepanjang hidup.

Ada juga sebentuk persegi  berwarna cokelat kehitaman yang tertata di atas meja warung. Dia lantas mencicipinya.

“Namanya tempe. Coba makan lah, kok enak gitu. Tahu goreng juga sama. Juga banyak pengalaman baru, seperti naik becak, karena di kampung tidak ada,” ucap Conny.

Baca juga: Kegiatan Menggambar dan Mewarnai Online KAGAMA Bali Mengobati Kerinduan Anak akan Sekolah