Cerita Dekan Kedokteran Gigi UGM Berlebaran di Masjidil Haram

561

Begitulah, sekitar 5 jam sebelum palaksanaan salat Id,  Masjidil Haram sudah penuh sesak. Massa jamaah di sekeliling Kabah sudah tidak bisa bergerak.

Untuk tawaf saja sudah tidak bisa lagi. Begitu pula di lantai dua.

Satu-satunya yang masih nampak ada gerakan jamaah melakukan tawaf —berjalan mengelilingi Kakbah—tinggal ada di lantai tiga Masjidil Haram.

Di hari-hari selain Idulfitri, kendati sudah ada luapan jamaah, masih saja ada celah bagi jamaah untuk melalukan gerakan tawaf.

Tetapi kali ini tidak, kecuali tersisa di lantai paling atas masjidil Haram.

Yang menarik, sembari  menunggu salat Id, beberapa orang  membagi-bagikan makanan kepada jamaah yang sudah duduk rapi dalam deretan saf-saf. Ada kurma, kue kering, roti, minuman dan lain-lain.

Sementara beberapa anak kecil menyalami petugas. Yang lainnya menghampiri deretan jamaah sambil berucap, “minal aidin.. “.

Mereka meminta “hadiah” dari jamaah 1 sampai 5 real. Anak-anak perempuan itu bukan pengemis.

Pakain mereka bagus-bagus. Mereka juga bersolek. Rambutnya dibiarkan terbuka, tidak seperti kalangan dewasa yang tertutup rapat.

Rupanya mereka sedang bergembira ria memunguti semacam “angpao”.

Tepat pukul 06.00 salat Id dimulai. Suara riuh jamaah mendadak senyap.

Tinggallah suara merdu imam salat Id yang melantunkan ayat-ayat Quran di dalam salat.

Merinding rasanya. Menghanyutkan. Inilah saat paling menggetarkan kalbu… Allahu Akbar.

Usai shalat Id 2 rakaat dilanjutkan khotbah Idulfitri.

Seiring pembacaan khotbah, para jamaah mulai beranjak meninggalkan Masjidil Haram.

Tidak ada yang saling berjabatan tangan dan ucapan memaafkan seperti di tanah air.

Kalau pun ada, mereka adalah kerabat, atau kenalan baru staf hotel yang berjabatan tangan dengan kami, ucapan yang keluar dari bibirnya cukup, “Ied mubarrok…”.

Berbeda sekali dengan di tanah air.(*)

*Dekan Fakultas Kedokteran Gigi UGM

Dr. drg. Ahmad Syaify, Sp.Perio(K)