Prof. Murdijati : Kita Mesti Bangga Mewarisi Kekayaan Kuliner Bangsa Sendiri

312
Para pembicara Talk Show Jajanan Indonesia yang Mendunia. Fajar/KAGAMA
Para pembicara Talk Show Jajanan Indonesia yang Mendunia. Fajar/KAGAMA

KAGAMA.CO, JAKARTA – Kekayaan kuliner Indonesia begitu banyak ragamnya, berlimpah bumbu rempah-rempah, punya cita rasa yang khas, serta mampu menggoyang lidah penikmatnya sehingga semestinya kita bangga mewarisi dan mengangkatnya untuk go internasional.

Pandangan itu dilontarkan Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, saat menjadi pembicara dalam Talk Show bertema Jajanan Indonesia yang Mendunia  sekaligus softlaunching Buku Pusaka Cita Rasa Indonesia yang digelar di Grha Niaga Thamrin, Jakarta, Rabu (28/2/2018).

Tampil sebagai pembicara pertama, Prof. Murdijati memaparkan ragam minuman khas Indonesia dan sejarah kuliner di Tanah Air.

“Menilik sejarah di era tahun 1500an, kala itu bumi Nusantara telah melakukan revolusi cita rasa dengan rempah-rempah sehingga bangsa Eropa berlomba-lomba datang.”

“Bahkan pada masa itu rempah-rempah Nusantara harganya lebih tinggi dari emas. Berkat rempah-rempah dari bumi Indonesia, bangsa Eropa memperoleh kekayaan cita rasa dalam kuliner mereka yang semula hanya punya dua rasa, yakni anyep dan asin,” tutur pakar kuliner berusia 76 tahun itu.

Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani , dan Prof. Dr. Ir. Umar Santoso, M.Sc., aktif merawat warisan kuliner Indonesia. Fajar/KAGAMA
Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani , dan Prof. Dr. Ir. Umar Santoso, M.Sc., aktif merawat warisan kuliner Indonesia. Fajar/KAGAMA

Menurutnya, kini di era milenial, ada tren orang-orang Eropa mulai kembali mencari dan tertarik dengan cita rasa kuliner khas Indonesia yang kaya rempah-rempah.

“Indonesia mempunyai sekitar 1317 suku, itu artinya ada 1317 ada dapur Indonesia yang kulinernya pasti lezat semua dan punya cita rasa yang khas. Oleh sebab itu, kita mesti bangga dengan warisan kuliner bangsa sendiri.”

“Peluang kita untuk mengangkat kuliner Indonesia sebagai bagian dari destinasi wisata yang bisa menarik turis-turis mancanegara juga besar. Saya yakin, kuliner Indonesia mampu untuk go internasional,” papar Prof. Murdijati.

Selain Prof. Murdijati, tampil sebagai pembicara adalah Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani serta Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM Prof. Dr. Ir. Umar Santoso, M.Sc.

Mereka bertiga telah bekerjasama mengumpulkan serta mendokumentasikan aneka resep makanan dan minuman Indonesia dalam Seri Buku Pusaka Cita Rasa Indonesia I-XII.

Lantas bicara soal sejauh apa potensi dan tantangan kuliner Indonesia di lapangan? Retnosyari Septiyani, pendiri Progress Jogja, yang mengemas wedang tradisional dalam kemasan kecil dan membawanya ke pasar Eropa, serta Karina Kumarga dan Laura Wiramihardja, pendiri Iki Koue, yang konsisten membawa jajanan pasar yang modern, hiegenis, dan lezat memaparkan pengalaman mereka masing-masing.

Kegiatan talk show Jajanan Indonesia yang Mendunia dan softlaunching Buku Pusaka Cita Rasa Indonesia merupakan rangkaian dari acara “Ngemil, Ngobrol, Ngevlog” yang digelar oleh komunitas pecinta kuliner Tanah Air, Belanga Indonesia, serta disponsori oleh PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk.

Di akhir acara talk show, Direktur Utama PT TPS Food Ir. Stefanus Joko Mogoginta memberikan cenderamata kenang-kenangan kepada keenam pembicara.

“Kami selalu mendukung segala aktvitas yang tujuannya melestarikan sekaligus mensosialisasikan kuliner Indonesia kepada masyarakat, khususnya generasi milenial, sehingga mereka mencintai serta bangga terhadap warisan budaya bangsa sendiri,” tutur alumni Fakultas Teknologi Pertanian UGM tersebut. (jos)