Prof. Adi Utarini, Sang ‘Komandan Nyamuk’ dari UGM Masuk Daftar 10 Ilmuwan Berpengaruh 2020

407

Baca juga: Cerita di Balik Jenggot Ganjar Pranowo

“Ini adalah upaya terobosan untuk menemukan harapan baru pengendalian demam berdarah. Yang kita lakukan adalah sebuah intervensi lingkungan dengan nyamuk Aedes aegypti yang sudah ada bakteri Wolbachia,” terang Uut, sapaan akrabnya.

Hal tersebut Uut sampaikan dalam tayangan langsung melalui Instagram bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, dan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Prof. Nizam, Senin (21/12/2020).

“Impak kepada masyarakat adalah ketika nyamuk di suatu wilayah semua sudah mengandung Wolbachia, maka kemudian ketika nyamuk menggigit, virus tidak ikut berpindah pada manusia,” terang Uut.

Uut menjelaskan, penelitian ini telah berlangsung hampir sepuluh tahun.

Pada tahun 2016 hingga tahun 2017, WMP menyerahkan 7 ribu ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia di 7 kelurahan di Kecamatan Tegal Rejo dan Wirobrajan, yang kemudian dimonitor selama beberapa waktu.

Baca juga: Perjalanan Gabriel Asem Membangun Tambrauw yang Awalnya Hanya Berupa Perbukitan dan Panta

Dari penyebaran nyamuk ber-Wolbachia tahap pertama, ditemukan bahwa nyamuk tersebut mampu bertahan dengan jumlah yang tinggi dalam populasi dan tetap konsisten.

“Secara lingkungan ini intervensi yang sangat sustainable. Jika sudah di atas 60 persen kita hentikan pelepasan, dan secara alami akan terjadi perkembangbiakan,” jelas guru besar FK-KMK UGM itu.

Penelitian ini pun rencananya akan terus dilanjutkan dalam rangka menurunkan angka kejadian demam berdarah di DIY, dengan hasil penelitian ini diharapkan bisa dilaksanakan di daerah lain di Indonesia.

Dalam tayangan tersebut, Nadiem Makarim Makarim menyampaikan apresiasi.

“Ini merupakan kebanggan yang luar biasa bahwa Indonesia dan dosennya bisa disebut dalam 10 ilmuwan yang paling akan berdampak pada dunia. Jarang sekali kita mendapat rekognisi yang setinggi itu,” ucap Nadiem. (Th)

Baca juga: Solidaritas Sosial adalah Kekuatan Bangsa Indonesia untuk Bertahan