Ekan Berbagi Rezeki Saat Pandemi Melalui Dapur Nyawiji

40
Selama hampir setahun berjalan, Dapur Nyawiji telah banyak membantu ibu-ibu dan mahasiswa untuk mendapatkan penghasilan selama pandemi. Foto: Ist
Selama hampir setahun berjalan, Dapur Nyawiji telah banyak membantu ibu-ibu dan mahasiswa untuk mendapatkan penghasilan selama pandemi. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Ekandari Sulistyoningsih merintis usaha kuliner yang dinamai Dapur Nyawiji pada Mei 2020 lalu.

Perempuan yang akrab disapa Ekan, itu tidak ingin berdiam diri selam apandemi.

Selain itu, dirinya juga merasa didorong oleh keinginan untuk membantu teman-temannya yang mengalami kesulitan ekonmi.

Tidak sekadar berjualan, Dapur Nyawiji juga mengedepankan amal (charity) dan pemberdayaan (empowerment) bagi ibu-ibu rumah tangga.

Selama hampir setahun berjalan, Dapur Nyawiji telah banyak membantu ibu-ibu dan mahasiswa untuk mendapatkan penghasilan selama pandemi.

Caranya adalah dengan menjalankan usaha kuliner di Dapur Nyawiji.

Nasi box, Salah satu produk Dapur Nyawiji yang melibatkan banyak anggotanya. Foto: Ist
Nasi box, Salah satu produk Dapur Nyawiji yang melibatkan banyak anggotanya. Foto: Ist

Baca juga: Kagama Jateng dan Kagama Pemalang Tanam Bibit Kelapa di Kawasan Obyek Wisata Purana Farmland

Ekan bercerita, suatu kali Ndalem Mangunsudiran, guest house yang dikelolanya sejak awal tahun 2020 harus tutup karena pandemi Covid-19.

Dia bersama teman-teman Kagama yang biasa berkegiatan di Ndalem Mangunsudiran kemudian menjadikan tempat itu sebagai posko peduli Covid.

“Kegiatan yang dilakukan mulai dari pembuatan hand sanitizer, pendistribusian Alat Pelindung Diri (APD), hingga kegiatan canthelan,” jelas Ekan, dalam webinar Inspirasi Kagama, (03/04/21).

Seiring makin banyak pihak yang membantu, kegiatan canthelan kemudian berkembang menjadi pasar tiban.

Di pasar tiban yang diadakan di minggu ketiga setiap bulannya itu, warga kurang mampu bisa mendapatkan aneka kebutuhan rumah tangga.

Mulai dari makanan siap saji, sembako, peralatan mandi hingga alat tulis. Uang yang diperoleh dari penjualan kemudian dijadikan sebagai modal lagi untuk pasar tiban bulan berikutnya.

Dari networking yang terjalin, kemudian muncul gagasan baru membuka usaha kuliner yang bisa memberdayakan banyak orang, khususnya ibu-ibu rumah tangga.

Baca juga: Public Speaking Nggak Cuma Perkara Orang Bisa Ngomong Panjang Lebar