Direktur PMPU BPOM RI Alumnus UGM Ungkap Kunci Menjaga Keamanan Pangan bagi Penjual Makanan Siap Saji

91
Direktur PMPU BPOM Alumnus UGM, Dra. Dewi Prawitasari, M.Kes., Apt. menjelaskan kiat menjaga keamanan pangan bagi penjual makanan siap saji. Foto: Farmasi UGM
Direktur PMPU BPOM Alumnus UGM, Dra. Dewi Prawitasari, M.Kes., Apt. menjelaskan kiat menjaga keamanan pangan bagi penjual makanan siap saji. Foto: Farmasi UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Makanan yang aman dikonsumsi adalah makanan yang bebas dari cemaran biologis, kimia, dan benda lain.

Sesuai dengan UU No.22/2012 tentang pangan, makanan akan tetap aman, higienis, bergizi, bermutu, dan yang jelas juga tak akan bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat.

“Keamanan pangan kita bagi menjadi tiga pilar, dari sisi pelaku usaha pangan, pemerintah, maupun konsumen. Jadi, pelaku usaha ini yang akan menjamin kelayakan dan mutu pangan.”

“Kemudian pemerintah memastikan keamanan dan mutu pangan, dengan cara melakukan sampling dan pengujian pangan, serta melakukan audit dan sarana produksi dan distribusi pangan.”

“Sebab, konsumen memiliki hak atas pangan yang berkualitas, aman, dan bermutu,” ujar Direktur Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha BPOM, Dra. Dewi Prawitasari, M.Kes., Apt.

Pemaparan ini Dewi sampaikan dalam diskusi daring Sonjo Angkringan, bertajuk Keamanan dan Higiene Sanitasi Pangan, beberapa waktu lalu yang digelar oleh gerakan kemanusiaan Sambatan Jogja (SONJO).

Keamanan pangan yang dimaksud merujuk pada makanan siap saji.

Baca juga: Kagama Jateng dan Kagama Pemalang Tanam Bibit Kelapa di Kawasan Obyek Wisata Purana Farmland

Menurut Dewi, hal ini menjadi penting untuk ditegakkan, karena dapat menyebabkan penyakit dan keracunan pangan.

Apabila jatuh sakit, produktivitas masyarakat akan berkurang, yang kemudian berujung pada memburuknya perekonomian.

Tidak terjaminnya keamanan pangan membuat produk usaha atau industri menjadi tidak laku.

Selain itu, juga membuat kualitas generasi muda semakin melemah, karena kebutuhan gizinya tak terpenuhi.

Mengutip data dari WHO, Asia Tenggara menjadi wilayah yang mengalami foodborne disesease.

Dewi menuturkan, Asia Tenggara merupakan wilayah tertinggi nomor 2 di dunia dalam hal gangguan penyakit akibat penyakit per populasi penduduk.

Gejala foodborne disease antara lain muntah-muntah, gatal-gatal, pusing, diare, dan lain-lain tergantung penyebabnya.

Baca juga: Public Speaking Nggak Cuma Perkara Orang Bisa Ngomong Panjang Lebar