Angkringan, Pilihan Konkret Semua Kalangan

958
Dengan suasana dan harga yang merakyat, angkringan menjadi pilihan konkret untuk semua kalangan.(Foto: uangonline.com)
Dengan suasana dan harga yang merakyat, angkringan menjadi pilihan konkret untuk semua kalangan.(Foto: uangonline.com)

KAGAMA.CO, YOGYAKARTA – Istilah angkringan berasal dari bahasa Jawa, angkring yang berarti alat dan tempat jualan makanan keliling yang pikul serta berbentuk melengkung ke atas. Selain melengkung, angkringan juga ada yang berbentuk gerobak dorong, seperti yang sering kita lihat di pinggiran Kota Yogyakarta.

Angkringan menjual berbagai macam makanan dan minuman di pinggir jalan, khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Gerobak angkringan biasanya ditutupi dengan kain terpal plastik untuk melindungi dari hujan.

Ada perbedaan penyebutan angkringan di daerah Solo dan Yogyakarta. Jika di Yogyakarta orang mengenal nama angkringan, orang-orang Solo menyebutnya warung hik.

Warung hik dimaknai orang Solo sebagai akronim dari “Hidangan Istimewa ala Kampung”. Pemaknaan ini merujuk pada warung makan yang menjual makanan dan minuman dari kampung.

Satu gerobak angkringan bisa memuat sekitar 8 orang pembeli. Namun sering kita jumpai angkringan yang menyediakan tambahan tikar atau kursi untuk pembeli yang ramai.

Angkringan biasanya beroperasi mulai sore hingga malam hari, bahkan ada beberapa yang sampai pagi hari. Beberapa angkringan yang masih tradisional, senthir menjadi andalan dalam penerangan.

Senthir atau lentera adalah penerangan sederhana di zaman dahulu. Ada yang terbuat dari bekas botol minuman dengan sumbu dan minyak tanah sebagai bahan bakarnya, ada pula dari kaleng sisa makanan atau cat.

Makanan (kampung) yang dijual di angkringan biasanya meliputi nasi kucing, gorengan, sate usus (ayam), sate telur puyuh, rambak dan aneka pelengkap hidangan lainnya. Minuman yang yang disediakan biasanya teh, jeruk, wedang jahe, kopi, tape dan susu.