Kamis, 20 Juni 2024 | 11:49 WIB

Maritime Award Wadah Pembelajaran Generasi Muda untuk Optimalisasi Sumber Daya dan Ruang Laut

Mewujudkan Poros Maritim Dunia

Berbicara soal kemaritiman, dia menyebut bahwa Indonesia punya agenda besar yakni menjadi Poros Maritim Dunia.

Guna mewujudkan hal tersebut maka ada beberapa hal yang mesti dilakukan oleh para stakeholder di tanah air.

“Pertama, kita perlu konsensus nasional menyepakati arah dan prioritas pembangunan kelautan kita, tidak boleh setengah-setengah.”

Baca juga: Sri Sultan HB X: Untuk Wujudkan Poros Maritim Dunia, Indonesia Perlu Empat Kekuatan Ini

“Apalagi sampai ganti pemerintahan, berubah lagi arahnya. Harus ada kesinambungan dan keberlanjutan. Ini hal paling mendasar,” jelas Riza.

Menurutnya, riset termutakhir dari Laboratorium Indonesia 2045 dan Iskindo telah berhasil memilah prioritas sektor ekonomi biru ke dalam tiga fase.

Fase 2022 hingga 2024 berfokus pada perikanan, pariwisata dan transportasi.

Fase 2024 sampai 2029, selain menggarap tiga sektor sebelumnya, mulai mempersiapkan sektor-sektor ekonomi baru seperti energi bersih, logistik, kimia laut, bioteknologi dan sebagainya.

Baca juga: TNI Angkatan Laut Garda Depan Amankan Poros Maritim Dunia

“Diharapkan pada fase lanjutan, yakni 2029 hingga 2045, semua sektor ekonomi biru kita berjalan optimal, artinya inklusif secara sosial, berkelanjutan secara lingkungan dan optimal secara ekonomi. Sekali lagi, ini perlu ada konsistensi,” paparnya.

Kedua, ungkap Riza, Indonesia perlu investasi besar pada sumber daya manusia (SDM) unggul kelautan.

“Sebab, sampai 70 tahun lebih Indonesia merdeka, kita baru memanfaatkan tiga dari 11 sub ekonomi kelautan, yakni perikanan, pariwisata dan transportasi.”

“Itupun belum sepenuhnya optimal. Inovasi dan teknologi untuk menggerakkan sumber daya kelautan kita membutuhkan SDM SDM unggul.”

Baca juga: Keraton Yogyakarta Capai Kemajuan Pesat di Era Sultan HB II

“Di sini peran perguruan tinggi menjadi penting. Tidak saja memperkuat pengetahuan, tetapi juga memacu penguatan ekosistem tenaga kerja kelautan kita agar semakin menarik bagi generasi muda,” ungkap Riza.

Terakhir, dia menilai bahwa Indonesia harus melakukan pemulihan kesehatan laut Indonesia.

“Berdasarkan laporan terkahir Ocean Health Indext (OHI) menunjukkan skor Indonesia rendah dibandingkana rata-rata dunia.”

“Salah satu indikatornya fungsi ekosistem pesisir telah mengalami penurunan cukup signifikan dibanding tahun 1980.”

Baca juga: Maritime Award di Mata Keluarga Almarhum Ir. H. Djuanda Kartawidjaja

“Nah, mustahil laut memberi manfaat kepada kita, jika kondisi lautnya “sakit” maka agenda pemulihan ini harus terus dikawal di seluruh tingkatan,” kata pria yang menyelesaikan pendidikan S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

Dia menyatakan juga bahwa sebagai wadah organisasi profesi, Iskindo terus mengidentifikasi, mempromosikan dan mendorong para alumni terlibat aktif di seluruh tingkatan dalam memajukan pembangunan kelautan nasional.

“Tahun lalu, kita mengusulkan upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam mengurangi kemiskinan ekstrem di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.”

“Kenapa penting? Karena lebih dari 50 persen atau mayoritas kabupaten atau kota kategori kemiskinan ekstrem justru di pesisir.”

Baca juga: Pertama di Indonesia, Yogyakarta Royal Orchestra Gelar Konser Musik di Pelabuhan Sunda Kelapa

“Kita juga tengah mendorong bursa kerja dan inovasi kelautan untuk menghubungkan antara alumni sebagai inovator dengan industri sebagai user,” pungkas Riza. (jos)


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA