Membangun Bangsa dari Pinggiran Dimulai oleh Kampus Kerakyatan

250
Pembukaan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Tanjungkarang tanggal 22 Mei 1953. Foto: Arsip UGM
Pembukaan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Tanjungkarang tanggal 22 Mei 1953. Foto: Arsip UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Program Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) UGM dimulai pada tahun 1951.

Koesnadi Hardjasoemantri merupakan angakatan pertama beserta 7 mahasiswa lain yang ikut mengajar ke luar Jawa.

Rektor UGM periode 1986-1990 ini terjun ke Kupang untuk mengajar di dua sekolah, yakni SMA Kupang dan SMP Kupang.

PTM Angkatan II tahun 1952 berhasil menerjunkan lebih banyak mahasiswa, yakni 16 orang di SMA Pare-Pare, SMA Kupang, SMA Balige, SMA Medan, SMA Banda Aceh, SMA Singaraja, SMA Banjarmasin, SMA Bukit Tinggi, SMA Padang, dan SMA Ambon.

Para mahasiswa yang mengabdi terpaksa menaiki kapal barang bersama hewan ternak.

Pasalnya, mereka kesulitan mendapat jadwal penerbangan saat itu.

Baca juga: Wujudkan Herd Immunity, KAGAMA Karanganyar Gandeng RSUD Karanganyar Gelar Vaksinasi

Perjuangan PTM yang luar biasa tidak mengenal lelah ini diutarakan oleh Josef Riwu Kaho, “Yang saya tahu dan dapat saya contohkan sebagai gambaran adalah guru saya, Pak Koesnadi.”

“Pagi hari Pak Koes mengajar di SMA di Kupang, dan sore hari beliau mengajar di SMP yang jauhnya 7 km dari kota Kupang,” terang mantan murid PTM di Kupang yang kemudian menjadi Dekan Fisipol UGM periode 1982–1988.

Penerima Satya Lencana Karya Satya 30 Tahun dari Presiden Jusuf Habibie ini menambahkan, segala kesusahan yang dialami pada waktu itu hanya untuk satu keinginan: membuat bangsa ini menjadi maju melalui pendidikan.

Mendirikan Sekolah

Pada tahun 1953 belum ada satupun sekolah lanjutan di Tanjungkarang (Lampung) dan Pontianak.

UGM lewat program PTM nya mengirim 7 mahasiswa ke Lampung untuk membantu pemerintah mendirikan sekolah lanjutan serta 27 mahasiswa ke berbagai daerah lainnya.

Baca juga: KAGAMA Pertanian Kumpulkan Dana Abadi Ratusan Juta Rupiah untuk Beasiswa Pendidikan