Minggu, 16 Juni 2024 | 09:25 WIB

Berpotensi Untung Besar, Begini Kiat Berbisnis Tanaman Anggrek Ala Heni Indarwati

Baca juga: Cerita Gede Mantrayasa, Bangun Kebun Berdaya sebagai Sumber Pangan dan Ruang Kreatif Masyarakat

Layaknya pebisnis lain, sejumlah kendala sekaligus tantangan juga harus dia hadapi.

Kerusakan dalam pengiriman atau terima barang menjadi kendala yang tak terhindarkan.

Tidak tinggal diam, Heni langsung mengantisipasinya dengan melakukan perbaikan pengemasan dan kesiapan tanaman sebelum dikirim.

“Kami usahakan, anggrek yang dikirim bisa bertahan selama dua minggu. Karena tidak bisa kita prediksi bahwa ekspedisi memakan waktu lama bahkan bisa terlambat.”

“Di samping itu, saya membuat kontrak kesepakatan dengan pihak supplier, sehingga kita paham dengan konsekuensi yang diterima jika barang rusak,” jelasnya.

Risiko kematian tanaman anggrek juga harus Heni hadapi, ketika ada beberapa step perawatan anggrek belum dia pahami.

Dari pengalaman ini, Heni juga belajar penanganan anggrek sebelum maupun sesudah masuk kebun.

Baca juga: Alumni Psikologi UGM Angkatan ’83 Luncurkan Buku Perjalanan Hidup Satu Angkatan

Kendala berikutnya adalah stok barang atau order barang lama karena banyaknya permintaan.

Selama pandemi Covid-19 permintaan anggrek meningkat. Heni kemudian mengakalinya dengan mencari alternatif jenis-jenis anggrek lain dan bekerja sama dengan petani anggrek (petani plasma).

Di dunia usaha anggrek, Heni menghadapi persaingan harga yang tidak sehat.

Walaupun demikian, Heni yakin masih bisa menjual anggrek dengan harga yang pantas asalkan anggrek tersebut dijual dalam keadaan prima.

Dia juga berusaha menyediakan lebih banyak jenis anggrek yang limited edition atau anggrek yang siap tampil.

Di satu waktu, pelaku usaha anggrek juga kerap mengalami kesulitan modal dan lahan nursery.

Menghadapi ini, Heni tetap berusaha memperluas kebun dengan keuntungan yang didapat.

Baca juga: Cerita di Balik Jenggot Ganjar Pranowo

Tantangan lainnya yaitu pengusahaan barang-barang tertentu oleh agen importir.

Sejauh ini, tidak banyak yang bisa Heni lakukan selain memilih jenis bunga yang tersedia di importir, memesan lewat agen dengan jumlah terbatas, atau memutuskan untuk mencari varian anggrek lain.

Di samping rasa suka dan kemampuan melihat potensi pasar, seorang pelaku bisnis, kata Heni, juga harus bisa menganalisis peluang dan hambatannya.

Penting juga untuk menghilangkan pikiran negatif, tentang kelangsungan bisnis ke depannya. Hal yang terpenting adalah berani untuk memulai.

“Kemudian siap dengan tantangan dan risikonya, membuka jaringan seluas-luasnya, serta bergabung dengan komunitas-komunitas bisnis atau pecinta anggrek untuk menaikkan daya jual kita,” tuturnya.

Tidak sama dengan bidang bisnis lain, berbisnis anggrek membutuhkan keahlian khusus.

Heni harus lebih dulu mengenali produknya dengan mempelajari sekian banyak spesies anggrek dan cara perawatannya.

“Kenali target market kita, kalau kebanyakan konsumen adalah ibu-ibu PKK, maka sediakan anggrek dengan harga terjangkau.”

“Selain tanamannya, kita juga bisa menjual perlengkapannya, misalnya media tanamnya, pupuknya, bibitnya, dan lain-lain.”

“Penjualan seharusnya tidak terputus begitu saja, penjual harus tetap memberi pelayanan after selling.”

“Tawarkan pilihan yang cocok kepada pembeli untuk menimbulkan trust pembeli ke penjual. Jadi, kita tidak hanya sekadar menjual dan memenuhi permintaan pembeli saja,” tegasnya. (Kn/-Th)

Baca juga: Rumah Dahor yang Kaya Sejarah Ini Jadi Latar Video Nitilaku KAGAMA Balikpapan


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA