Senin, 24 Juni 2024 | 07:57 WIB

Petani dan Ilmuwan Perlu Gunakan Paradigma Pertanian Baru Demi Ketahanan Pangan

Baca juga: Kata Alumnus: Ilmu Biologi Punya Peran Penting dalam Pembuatan Kebijakan Pembangunan

Untuk itu, Edhi berharap para ilmuwan mengesampingkan ego sektoral.

Aplumnus Fakultas Pertanian UGM angkatan 1981 ini menututkan, pengelolaan ekosistem pertanian bisa menggunakan dua pendekatan, yakni system plant dan phytobiome.

System plant merupakan sistem lama yang fokus pada tanaman khusus yang dipilih terlebih dahulu, kemudian memahami interaksi tanaman tersebut dengan lingkungannya.

Sedangkan pendekatan barunya yaitu phytobiome, fokus pada ekosistem tanaman yang akan melibatkan berbagai jenis tanaman, organisme, dan komponen fisiknya.

Interaksi seluruh komponen ini, kata Edhi, akan digunakan untuk mengidentifikasi jenis-jenis tanaman dan cara praktik, yang paling tepat untuk menanam sebuah tanaman di waktu dan tempat tertentu.

Baca juga: Preman Bisa Jadi Key Person Penegakan Protokol Kesehatan di Pasar

“Semua komponen yang berbeda itu kemudian harus diintegrasikan. Dalam phytobiome, kompinen biotik dan abiotik mempengaruhi kesehatan tanaman.”

“Di sinilah pentingnya ekosistem servis, sebuah pelayanan yang diberikan oleh lingkungan, agar tanaman hidup dengan baik.”

“Misalnya, lingkungan membuat keseimbangan kondisi agar tanaman tidak stress. Tanaman banyak diserang hama karena tidak diberikan pelayanan ekosistem yang bagus dan hanya menerapkan budidaya penanaman monokultur, sehingga ekosistemnya tidak seimbang dan musuh alami (predator) hama tidak bisa tinggal di situ,” tuturnya.

Dalam pelayanan ekosistem, tanaman refugia menjadi cukup populer. Tanaman refugia dinilai bisa menggantikan fungsi tanaman-tanaman yang tersingkirkan, sehingga bisa meningkatkan predator.

Edhi menilai, tidak mudah bagi para ilmuwan maupun petani menerapkan berbagai paradigma dan pendekatan pertanian yang baru ini.

Para pengambil kebijakan masih berorientasi pada produksi sebanyak-banyaknya sampai mengorbankan prinsip keberlanjutan.

“Daripada menggantungkan diri pada pada hal-hal yang datang dari luar, sebaiknya kita coba fokus pada tanaman dan sekelilingnya dengan berpikir secara menyeluruh, salah satunya dengan SiPINTAR ini,” pungkasnya. (Kn/-Th)

Baca juga: Klaten adalah Pusat Pengembangan Budaya Keraton Surakarta


KAGAMA EDISI CETAK

BACA JUGA

BERITA TERKAIT

JOGJANESIA