Hal yang Perlu Dilakukan Indonesia dalam Konflik AS-Tiongkok

328
Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional UGM, Prof. Mohtar Mas’oed membabar citra AS di mata Indonesia. Foto: Unsoed
Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional UGM, Prof. Mohtar Mas’oed membabar citra AS di mata Indonesia. Foto: Unsoed

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional UGM, Prof. Mohtar Mas’oed mengatakan, bisnis AS di Indonesia sudah mulai sejak berabad-abad yang lalu.

Demikian juga ketika Indonesia menghadapi persoalan dengan Irian Barat, AS juga sangat berkepentingan di dalamnya.

“Sekitar tahun 1940 dan 1960, posisi AS kala itu memaang tidak bisa diabaikan oleh Belanda.”

“AS juga menjadi broker ketika Indonesia sedang memiliki utang Rp2,3 miliar dollar dengan Uni Soviet. Broker merupakan citra pertama yang tumbuh di mata masyarakat Indonesia ketika melihat AS,” terangnya.

Hal tersebut Mohtar sampaikan dalam webinar bertajuk 70 Tahun Hubungan RI-AS: Evaluasi dan Proyeksi, yang digelar pada Minggu (8/8/2020) oleh PP KAGAMA dan KAGAMA Amerika.

Baca juga: Lulusan SMK Dicap Jadi Penganggur Terbesar di Indonesia, Dirjen Wikan: Itu Tak Akan Lagi Terjadi

Bisnis perminyakan milik AS, kata Mohtar, sudah ada di Indonesia sejak zaman Hindia Belanda.

Kemudian disusul pertambangan pada 1960 dan dilanjutkan dengan bisnis di bidang kehutanan dan manufaktur.

Mohtar menjelaskan, AS juga dikenal sebagai donor dan sponsor privatisasi ketika Indonesia sedang mengalami kesulitan pada tahun 1990-an.

Sponsor yang diberikan tersebut dalam bentuk kebijakan neoliberalisme, kemudian dimulailah berbagai praktik desentralisasi dan privatisasi di Indonesia.

“Sejak ada praktik-praktik ini, pola mengurus negara berubah, negara diposisikan sebagai perusahaan. Namun, di samping sebagai broker dan sponsor, AS di saat yang sama juga dianggap sebagai guru bagi tenaga pendidik di Indonesia.”

Baca juga: Pandangan Helmy Yahya soal Gaya Kepemimpinan Ganjar Pranowo