Konsep BUMP Langkah Strategis Pemberdayaan Petani

947
Pertanian di Indonesia dewasa ini telah mengalami involusi. Petani rata-rata berusia 50 tahun ke atas dan minim adanya regenerasi petani. Foto: Ist
Pertanian di Indonesia dewasa ini telah mengalami involusi. Petani rata-rata berusia 50 tahun ke atas dan minim adanya regenerasi petani. Foto: Ist

KAGAMA.CO, SOLO – Desa memerlukan bisnis model pengelolaan, distribusi, dan pemasaran produk unggulan melalui ekosistem digital.

Demikian disampaikan oleh Dirjen Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, Samsul Widodo.

Hal tersebut dia jelaskan dalam webinar Petani, Pertanian, dan Pedesaan di Era Kenormalan Baru Pasca Covid-19, pada Rabu (24/6/2020).

Acara ini digelar oleh Pusat Studi Perlindungan dan Pemberdayaan Petani (Pusdi Perlintan) LPPM UNS bekerja sama dengan Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian (Prodi PKP) Fakultas Pertanian UNS, dan Sekretariat Nasional Badan Usaha Milik Petani (BUMP) Indonesia.

Menurut Samsul, solusi tersebut di atas untuk menjawab berbagai permasalahan di desa. Antara lain rendahnya skala ekonomi, lemahnya akses pasar, jalur distribusi yang panjang, rendahnya sarana pasca panen, dan kesulitan permodalan.

Baca juga: Cara Pandang Masyarakat terhadap Alam Harus Diubah

Senada dengan Samsul, Guru Besar Fakultas Pertanian UNS, Prof. Dr. Darsono, M.Si berpendapat, pertanian secara makro masih terlihat bias dengan isu pangan.

“Ada intervensi yang kuat di sektor pangan ini, sehingga kebijakan pertanian akan menghela sektor tersebut sejak dari hulu hingga ke hilir sangat ketat,” jelas peneliti pada Pusat Studi Perlindungan dan Pemberdayaan Petani LPPM UNS ini.

Sementara pertanian non pangan, intervensinya seolah-seolah cenderung diserahkan ke pasar. Pengembangan pertanian hanya dibebankan di industri hilir.

“Pertanian di Indonesia dewasa ini telah mengalami involusi. Petani rata-rata berusia 50 tahun ke atas dan minim adanya regenerasi petani,” jelas Ketua KAGAMA Sukoharjo ini.

Selain itu, ironisnya kebutuhan manusia bergantung pada pertanian. Tetapi, petaninya tidak pernah bisa keluar dari kemiskinan.

Baca juga: Mengapa Bagian Selatan Pulau Jawa Sering Terjadi Gempa?