Cara Pandang Masyarakat terhadap Alam Harus Diubah

350
Menurut Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Prof. Satyawan Pudyatmoko, bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi tidak untuk keinginannya. Foto: Ist
Menurut Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Prof. Satyawan Pudyatmoko, bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi tidak untuk keinginannya. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Indonesia dikenal dengan negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Tetapi, ancaman keanekaragaman ini juga sangat besar.

Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Prof. Satyawan Pudyatmoko menerangkan, ancaman besar tersebut berupa konversi besar kawasan hutan menjadi kawasan perkebunan.

Hal tersebut dia disampaikan dalam acara UGM Talks: Keseimbangan Baru Ekosistem Hutan dan Lingkungan Hidup secara daring beberapa waktu lalu.

“Kemudian ancaman besar lainnya adalah perburuan yang sangat tinggi di Indonesia, bahkan Indonesia menjadi negara penyedia produk-produk ilegal satwa liar di Asia,” ungkap dosen yang menekuni bidang satwa liar dan ekologi landskap ini.

Dikatakan oleh Satyawan, kondisi keanekaragaman hayati di Indonesia yang tinggi sampai mencapai ke perbatasan, membuat kita sulit mengontrol tindakan perburuan liar.

Baca juga: Mengapa Bagian Selatan Pulau Jawa Sering Terjadi Gempa?

Persoalan lainnya, Indonesia kerap mendeklarasikan keanekaragaman hayati yang dimiliki sebagai modal untuk memajukan negara.

Namun, yang mengherankan pemerintah tidak fokus pada isu keanekaragaman hayati dalam kegiatan risetnya.

Di sisi lain, Satyawan menyebut interaksi manusia dengan satwa liar bukan interaksi yang lestari.

Namun, dengan adanya pandemi Covid-19 ini, menyadarkan manusia bahwa kesehatan ekosistem, kesehatan manusia, dan kesehatan hewan merupakan satu kesatuan.

“Penularan virus dari hewan ke manusia itu bukan mitos. Penularan bisa tidak hanya melalui konsumsi manusia akan daging hewan.

Baca juga: Pelajaran yang Bisa Dipetik Guru Besar FK-KMK UGM Setelah Sembuh dari Covid-19