Normal Baru adalah Jalan Keluar, Tetapi…

301
Koordinator Tim Respons Covid-19 UGM, Dr. Riris Andono Ahmad menyebut normal baru adalah salah satu jalan keluar yang bisa diupayakan saat ini. Foto: Ist
Koordinator Tim Respons Covid-19 UGM, Dr. Riris Andono Ahmad menyebut normal baru adalah salah satu jalan keluar yang bisa diupayakan saat ini. Foto: Ist

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Kebijakan lockdown skala nasional memberikan risiko besar bagi Indonesia, terutama di sektor ekonomi yang kemungkinan akan sangat jatuh di masa pandemi Covid-19.

Koordinator Tim Respons Covid-19 UGM, Dr. Riris Andono Ahmad, mengatakan, sesuai dengan prediksi WHO masyarakat masih harus berhadapan dengan virus ini hingga lima tahun ke depan.

“Untuk itu, normal baru menjadi salah satu jalan keluar yang bisa kita usahakan saat ini,” ujarnya.

Doni, sapaannya, menyampaokan hal tersebut dalam diskusi Covid-19 Tantangan Menuju Normal Baru, yang digelar oleh Keluarga Alumni Teknik UGM (KATGAMA), pada Rabu (25/6/2020), secara daring.

Doni mengatakan, sebelumnya masyarakat diimbau untuk merespon secara masif pandemi ini.

Baca juga: Strategi Dirjen Dikti Tangani Dampak Covid-19 di Sektor Pendidikan

Sementara normal baru mengarahkan masyarakat untuk merespon pandemi secara terencana.

Apapun responnya masyarakat harus mempertimbangkan risiko penularannya.

Ketika Normal baru diterapkan, kata Doni, mobilitas antar populasi akan semakin tinggi, sehingga memungkinkan adanya transmisi virus.

“Ada beberapa sektor yang harus kita kendalikan selama mobilitas antar populasi itu berlangsung. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 membagi kelonggaran kegiatan berdasarkan risiko penularan dan dampak ekonomi,” tuturnya.

Sektor dengan risiko penularan rendah dan memiliki dampak ekonomi yang tinggi, kata Doni, akan diprioritaskan untuk diberi kelonggaran melakukan aktivitas.

Baca juga: Upaya Menhub Budi Karya Siapkan Aturan Equilibrium agar UMKM Tetap Jalan