Pemred Koran Tempo: Yang Membuat Kita Bisa Menulis Bukanlah Bakat



2695

Baca juga: Ketua KAGAMA Batang Ini Pernah Jadi Saksi Patah Hati Teman KKN

Budi bertutur, hindarkan menulis penutup dengan klise. Kalimat klise diibaratkannya seperti tulisan yang putus asa dan tidak mau berpikir.

“Kita jangan seperti itu. Penutup jangan dianggap sepele. Karena penutup seringkali membuat tulisan kita berantakan dan tidak menancap di hati pembaca,” ucap Budi.

“Tulisan yang baik tidak meninggalkan pertanyaan di hati pembacanya,” terangnya.

Selanjutnya, pria yang jadi Pemimpin Redaksi Koran Tempo sejak 2016 ini menyebut lima tema yang bisa ditulis dalam storytelling.

Yakni human interest (drama kehidupan yang sering kali ada di sekitar), tren (yang sedang terjadi di masyarakat termasuk di media sosial), dan profil kegiatan (siapa motor, ide, dan kesulitannya).

Kemudian, profil individu dan kesuksesan seseorang (apa yang menginspirasinya).

Budi lantas memberikan delapan tips untuk bisa menulis secara storytelling. Pertama, pergunakan kalimat sederhana dan sependek mungkin. Satu kalimat maksimal 12 kata.

Baca juga: Optimisme Kebangkitan Ekonomi di Indonesia Pasca Covid-19

Kedua, hindari kalimat bercabang-cabang dan rumit. Bagi budi, kemampuan seseorang menyederhanakan yang rumit menunjukkan kualitas seorang penulis.

Ketiga, ceritakan secara deskriptif, bukan menggunakan kata sifat. Keempat, selalu pergunakan kalimat aktif.

“Kalimat pasif terkadang menyesatkan. Dengan kalimat aktif, power tulisan juga menjadi lebih besar,” ujar Budi.

Kelima, buatlah judul yang jernih setelah tulisan selesai. Penulisan judul di awal akan membuat penulis terpaku pada judul dan menghabiskan waktu.

Keenam, selalu baca ulang tulisan. Usahakan memberikan jeda di tengah-tengah menulis untuk mengendapkan ide dalam pikiran.

Ketujuh, semakin sering membaca akan meningkatkan kemampuan menulis. Demikian halnya dengan tips kedelapan, menonton film.

Bagi Budi, tips ketujuh dan kedelapan tersebut punya fungsi memperkaya diksi, alur, dan struktur.

“Tulisan bercerita akan memudahkan menyampaikan ide besar kepada umum,” ucap Budi.

“Sebenarnya yang membuat kita bisa menulis bukanlah bakat, tetapi berlatih. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, menulis itu bekarja untuk keabadian,” pungkasnya. (Ts/-Th)

Baca juga: Langkah Pertama KAGAMA Balikpapan Memulai Program Ketahanan Pangan Masa Pandemi