Gojlokan dari 2 Profesor FIB UGM yang Membuat WS Rendra Melegenda

1882
Nama W.S. Rendra tentu saja menjadi sosok kebanggaan UGM dalam Hari Puisi Nasional, Selasa (28/4/2020) lalu. Foto: Arsip Balairung
Nama W.S. Rendra tentu saja menjadi sosok kebanggaan UGM dalam Hari Puisi Nasional, Selasa (28/4/2020) lalu. Foto: Arsip Balairung

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Hari Puisi Nasional yang jatuh pada Selasa (28/4/2020) memang dipersembahkan untuk Chairil Anwar.

Pasalnya, tanggal serupa merupakan hari wafatnya sang penyulam sajak pada 1949 dalam umur 26 tahun.

Sejak Chairil tiada, Indonesia seakan tidak pernah mengalami senja kala akan sosok pegiat karya sastra.

Sebab, generasi muda terus bermunculan dan mengemuka di hadapan publik nusantara.

Salah satunya adalah yang sempat dikandung dalam rahim Universitas Gadjah Mada.

Dialah Willibrordus Surendra Broto Rendra, alias W. S. Rendra.

Selepas SMA pada 1952, Rendra mencatatkan namanya sebagai mahasiswa Sastra Inggris di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) UGM.

Baca juga: KAGAMA Sumut Siapkan Nasi Bungkus Cuma-cuma Selama Bulan Ramadan

Namun, pria asal Solo tersebut tidak menyelesaikan pendidikannya di Kampus Kerakyatan.

Petualangan Rendra di FIB UGM selesai kurang dari setahun, 10 bulan!

Dalam pidato pemberian gelar doktor kerhormatan (honoris causa) dari UGM pada Maret 2008, Rendra membeberkan alasannya.

“Saya memutuskan keluar dari bangku perkuliahan karena merasa materi kuliahnya belum bisa menambah wawasan dan intelektual,” tutur Rendra kala itu.

“Sempat juga saya sarjana muda, tapi sesudah itu sudah nggak lanjutin lagi. Namun, 10 bulan awal kuliah saya sudah naik tingkat.”

“Bukan karena saya pintar, tapi karena pelajarannya bodoh,” terang pria berjuluk si Burung Merak ini, sambil tersenyum.

Kendati sebentar di Fakultas Sastra UGM, Rendra, yang akrab disapa Mas Willy, mengaku mendapatkan pelajaran berharga dari dua sastrawan UGM.

Baca juga: Alumnus Farmasi UGM Sebut Zat yang Bisa Bantu Penderita Diabetes Melitus Hadapi Covid-19